CONTOH MEMBUAT LATAR BELAKANG MASLAH, IDENTIFIKASI MASALAH, FOKUS PERMASALAHAN , RUMUSAN MASALAH , TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN
T
E S I S
ANALISIS
MENURUNNYA MOTIVASI BELAJAR
SISWA DI KOTA PEMATANGSIANTAR
Oleh
RAJUTA
SEMBIRING
NPM
: 111351019
T
E S I S
ANALISIS
MENURUNNYA MOTIVASI BELAJAR
SISWA DI KOTA PEMATANGSIANTAR
Oleh
RAJUTA
SEMBIRING
NPM
: 111351019
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
SIMALUNGUN
PEMATANGSIANTAR
2012
T
E S I S
ANALISIS MENURUNNYA
MOTIVASI BELAJAR SISWA DI KOTA PEMATANGSIANTAR
Oleh
RAJUTA
SEMBIRING
NPM
: 111351019
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk
Memperoleh Gelar Magister Sains (M.Si)
dalam
Program Studi Ilmu Perencanaan
Wilayah dan Kota
Universitas
Simalungun
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
SIMALUNGUN
PEMATANGSIANTAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Salah satu fenomena pendidikan yang
dapat kita temui di kota Pematangsiantar adalah banyaknya siswa yang dapat kita
temui diwarung warung internet baik
ketika proses belajar mengajar di
sekolah sedang berlangsung maupun diluar jam sekolah. Siswa bermain dengan
bebasnya, dan pelajaran pun ditinggalkan . Tampaknya warung internet menjadi
tempat yang nyaman bagi para siswa, karena disana mereka dapat melakukan apa yang mereka mau.
Ketersediaan internet dikota
Pematangsiantar di satu sisi telah meresahkan orang tua, dan fihak sekolah
serta Pemerintah Kota Pematangsiantar.
Tidak sedikit orang tua yang cemas karena anak yang mereka cintai belum
juga tiba dirumah, yang seharusnya menurut jadwal-jadawal belajar anak bahwa
anak itu sudah tiba dirumah. Sehingga
orang tua harus direpotkan oleh ulah sianak.
Orang tua harus mencari putra/putri mereka ketempat-tempat yang belum
pasti. Para guru disekolah harus
mempertanyakan ketidak hadiran mereka kalamana mereka cabut atau tidak hadir disekolah karena
alasan-alasan yang mencurigakan.
Pemerintah Kota Pematangsiantar mendapat tambahan tugas untuk merazia
para siswa yang berkeliaran dipusat-pusat keramaian pada jam-jam belajar, dan
tidak sedikit siswa yang terjaring razia kasih sayang di temukan di
warung-warung internet.
Sebagai contoh, dalam suatu razia
Kasih Sayang yang dilakukan oleh
Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam
hal ini Polsek Siantar Utara Kota pada hari Jumat , 24 February 2012 yang beru
lalu, sebanyak 13 (tiga belas)
siswa terjaring di warung internet dan
bilyard dalam suatu operasi rajia kasih sayang yang dilakukan oleh Polsek
Siantar Utara Kota. Mereka berada di warung internet dan bilyard karena bolos sekolah. Operasi kasih
sayang ketika itu dilakukan sekitar pukul 10.00 dipimpin Kapolsek Siantar
Utara AKP M Nababan. TRIBUNnews, Bolos Saat Sekolah 13
Pelajar di ciduk Polisi , diakses tanggal
17 Mei 2012 <http://www.tribunnews.com/2012/02/24/bolos-saat-sekolah-13-pelajar-diciduk-polisi>
Pada berita lain Ekspos NEWS
menuliskan bahwa Razia Kasih Sayang yang dilakukan Selasa ,21 Februari 2012
terjaring 48 (empat puluh delapan siswa), dan uniknya satu diantaranya masih duduk dikelas IV SD dari salah satu SD Negeri di Naga Huta. Ia mengaku
sejak berangkat dari rumah pukul
6.30 langsung menuju warnet dan bermain
poin blank. Menurut Tim Polres Pematangsiantar
yang melakukan Rajia Kasih sayang tersebut, mereka membagi tim menjadi 2 (dua),
satu tim berhasil menjaring 36 (tiga puluh enam) siswa yang terdiri dari 25
(dua puluh lima) siswa SLTA dan 11 (sebelas) siswa SLTP yang keseluruhannya
laki-laki. Sementara tim yang satunya lagi berhasil menjaring 8 (delapan) siswa SLTA, yang terdiri dari 7
(tujuh) laki-laki dan 1 (satu) perempuan.
Selanjutnya menjaring lagi 4 (empat ) siswa lagi yang terdiri dari 3
(tiga) siswa SMP dan 1 (satu ) siswa SD.
Seluruh siwa ditemukan di warnet, bilyard dan Pasar horas pada
jam belajar disekolah sedang berlangsung. Kasat Pembinaan Masyarakat
(Binmas) Polres Pematangsiantar AKP
T.Sitepu mengatakan Operasi kasih sayang
ini merupakan kegiatan yang rutin
dilakukan
untuk
menekan jumlah siswa yang bolos. Eksposnews,
Siswa SD di Siantar Terjaring Razia Kasih Sayang, di akses tanggal 17 Mei
2012 <http://eksposnews.com/view/14/32397/Siswa-SD-di-Siantar-Terjaring-Razia-Kasih-Sayang.html>
Dalam
sebuah berita Metro Siantar menuliskan
Rajia Kasih Sayang yang dilakukan Rabu, 29 Februari 2012 oleh Tim Patroli
sekolah Dinas Pendidikan Pematangsiantar berhasil menjaring 35 (tiga pulu lima)
orang pelajar di Siantar. Ketua tim
Patroli Sekolah Juniar Sinaga mengatakan, penangkapan itu dilakukan berdasarkan
informasi dari masyarakat. Katanya, siswa tertangkap sekira pukul 11.00 WIB
dari lokasi warnet di Jalan Diponegoro, Siantar Plaza Jalan Merdeka dan Pasar
Horas. Metro Siantar, Rajia kasih
sayang, 35 siswa terjaring. Diakses 17 Mei 2012. <http://www.metrosiantar.com/index.php/Metro-Siantar/razia-kasih-sayang-35-siswa-terjaring.html>
Razia yang dilakukan oleh Polres
Kota Pematangsiantar dan Tim Patroli
Sekolah Dinas Pendidkan Pematangsiantar sebenarnya adalah penggalan dari
keseluruhan kegiatan yang terjadi di warung-warung Internet di
kota Pematangsiantar . Apa yang mereka lakukan masih terbatas pada siang
hari. Rajia Kasih Sayang bila dilakukan
di malam hari maka akan menjaring lebih
banyak pelajar di kota Pematangsiantar.
Sebab menurut pengamatan Penulis banyak pelajar di Kota Pematangsiantar
masih berada di warung-warung internet hingga larut malam bahkan hingga pagi
hari.
Dari beberapa informasi diatas
memberikan keterangan kepada kita bahwa telah terjadi suatu fenomena baru kehidupan pelajar dikota Pematangsiantar. Seharusnya sebagai
seorang pelajar hendaklah menunjukkan sikap dan perilaku pelajar. Ketika
jam-jam sekolah sedang berlangsung maka pelajar patutnya berada disekolah, dan
bila malam telah tiba pelajar patutnya berda dirumah, mengerjakan PR yang diberikan oleh Guru atau
mempersiapkan keperluan untuk bersekolah besok harinya.
Internet tampaknya telah mengusik
motivasi belajar sebagian siswa di kota
Pematangsiantar. Para pelajar yang
terusik motivasi belajarnya karena
sesuatu hal menunjukkan bahwa sebenarnya telah terjadi penurunan
motivasi belajar sebagai dampak dari internet.
Secara teori bila terjadi penurunan motivasi belajar , maka akan segera
tampak pada hasil belajar yang semakin buruk.
Bila hasil belajar dibiarkan semakin buruk oleh karena terusiknya motivasi
belajar siswa karena dampak negatif internet maka sudah
seharusnyalah dikerahkan berbagai upaya
untuk memulihkan hal itu.
Perlu diketahui bahwa
motivasi belajar adalah satu hal yang
perlu ditumbuhkan, di pelihara , dijaga dan dikembangkan dalam rangka meraih hasil belajar yang
optimal. Seseorang dapat gagal karena
tidak memliki motivasi belajar walaupun dia memiliki inteligensia yang cukup.
Sardiaman A.M (2007:84-85) mengatakan: Begitu juga untuk belajar sangat
diperlukan adanya motivasi . Motivation
is an essensial condition of learning.
Hasil belajar akan menjadi optimal , kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan
makin berhasil pula pelajaran itu.Jadi motivasi akan senantiasa menentukan
intensitas usaha belajar bagi para siswa.
Dalam perkembangan terkini
dinegara kita masalah pendidikan menjadi isu penting. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang
pro-pendidikan dapat kita telusuri dari berbagai perundang-undangan yang ada. UUD NRI Tahun 1945 telah mengamanatkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN
serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaran pendidikan nasional.
Porsi anggaran pendidikan
minimal 20 % dari APBN serta dari APBD adalah satu keputusan konstitusional yang menunjukkan kesadaran bangsa Indonesia akan perlunya memajukan Pendidikan
Nasional untuk mengejar berbagai
ketertinggalan Bangsa Indonesia . Terlebih lagi adalah suatu cita-cita untuk
mensejajarkan Bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa terkemuka di dunia. Keputusan yang menetapkan anggaran pendidikan
minimal 20% dari APBN serta dari APBD adalah suatu refleksi kesadaran Bangsa
Indonesia akan perlunya anak anak Indonesia
bersekolah dan harapan tidak akan adalagi anak-anak Indonesia yang putus
sekolah karena ketiadaan biaya. Namun
andaikan ada siswa di Pematangsiantar harus putus sekolah karena dampak negatif
Internet maka dapat dikatakan anak anak
Indonesia yang bersekolah di Pematangsiantar
tidak merespon amanat UUD NRI tahun 1945. Andaikan juga anak anak Indonesia yang
bersekolah di Pematangsiantar telah menurun motivasi belajarnya karena dampak
negatif internet maka kiranya kajian-kajian melalui penelitian perlu
diadakan untuk mengetahui seluk beluk
yang terjadi didalamnya, sehingga dapat
diterapkan langkah langkah yang tepat
untuk pencerahannya.
Sejatinya tidak boleh ada
anak-anak dikota Pematangsiantar menjadi menurun motivasi belajarnya karena ketersediaan layanan
internet. Anak-anak kota ini diharapkan
memilki motivasi belajar yang
tinggi untuk terus belajar agar hasil belajarnya dapat optimal,
sehingga dikemudian hari dapat
meneruskan tongkat estafet perjuangan membangun kota Pematangsiantar. Ketersediaan
internet di kota Pematangsiantar
tidaklah bermaksud menurunkan Motivasi
belajar siswa di Kota Pematangsiantar.
Sejatinya layanan internet di
Kota Pematangsiantar adalah wujud dari perkembangan Teknologi informasi
komputer yang memudahkan setiap penggunanya dalam mengakses berbagai informasi yang berguna bagi dirinya. Namun bila terjadi bukan seperti peruntukannya
maka perlu diadakan penelitian tentang gejala-gejala yang timbul. Oleh karena itu penulis ingin melakukan
penelitian yang lebih mendalam tentang
permasalah yang fenomenal dan aktual saat ini di pematangsiantar, dengan
judul penelitaian “Analisa Menurunnya
Motivasi Bealajar Siswa Di Kota Pematangisiantar”
Motivasi belajar sangatlah penting
untuk dapat menggerakkan kegiatan belajar.
Melalui kegiatan belajar maka
kita memperoleh manfaat seperti
tambahnya ilmu pengetahuan dan pengalaman baru, serta terjadinya perubahan
tingkahlaku . Oleh karena melalui
belajar diketahui memperoleh manfaat
maka Bangsa Indonesia
menyelenggarakan suatu pendidikan
nasional agar Bangsa Indonesia dapat
menjadi bangsa yang maju dan bangsa yang terkemuka. Bila motivasi belajar menurun berati intensitas usaha belajar menurun yang
berujung pada rendahnya hasil usaha
belajar seperti tidak adanya prestasi.
Sardiaman A.M (2007:85-86) mengatakan :
Seseorang melakukan suatu usaha
karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan
menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata
lain dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari oleh adanya motivasi,
maka seseorang yang belajar itu akan
dapat melahirkan prestasi yang baik.
Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya.
Dimyati dan Mudjono (2009:5) mengatakan :”
bila siswa belajar maka akan terjadi
perubahan mental pada diri
siswa” Mencermati pendapat ini maka pantaslah setiap orang tua
menginginkan anaknya belajar.
Oleh karena itu setiap orang tua
rela mengeluarkan banyak biaya untuk
menyekolahkan anaknya. Harapan orang
tua bila anaknya belajar maka semakin baiklah mental anaknya.
Tetapi
harus diingat bahwa motivasilah yang
menggerakkan belajar itu. Tanpa
motivasi kegiatan belajar itu
tidak dilakukan.
Mc.Donal dalam Sardiaman A.M (2007: 74 )
mengatakan: bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan
motivasi akan membawa beberapa perubahan energi dalam sistem”
neurophysiologikal “ yang ada pada organisme
manusia . Karena menyangkut perubahan energi manusia ( walaupun motivasi
itu muncul dari dalam diri
manusia ), penampakannya akan
menyangkut kegiatan fisik manusia.
Bila melihat fenomena
pendidikan yang terjadi dikota
Pematangsiantar seperti banyaknya siswa berada di warung-warung internet pada
saat kegiatan belajar mengajar disekolah sedang berlangsung, dan dikaitkan dengan teori –teori motivasi belajar maka dapat
diketahui betapa pentinganya
melakukan kajian yang
mendalam tentang fenomena itu.
Sebab bila fenomena itu tidak segera di atasi akan dapat mengakibatkan
semakin meningkatnya jumlah siswa yang
bolos sekolah. Dalam fenomena
ini adanya siswa yang bolos tersebut
adalah merupakan bukti motivasi belajar siswa yang menurun . Bila
motivasi belajar siswa di kota Pematangsiantar menurun maka perkembangan kota akan terhambat sebab
nantinya para siswa itulah yang akan meneruskan tongkat estafet pembangunan kota Pematangsiantar. Selain itu
membiarkan motivasi belajar siwa menurun berarti : membiarkan perkembangan mental
anak-anak kota Pematangsiantar pada arah yang tidak jelas, membiarkan mereka tidak turut serta berpartisipasi untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan , membiarkan mereka menjadi “virus” disekolah-sekolah
di kota Pematangsiantar, membiarkan mereka kehilangan masa depannya ,
membiarkan mereka menjadi korban kekejaman perkembangan teknologi.
1.2. Fokus Permasalah dan Pertanyaan Penelitian
Internet memang bukan hal yang baru lagi di kota Pematangsiantar. Banyak
orang kita temukan di warung-warung internet sedang asyiknya bermain internet. Pengunjungnya tidak terbatas pada golongan
orang tertentu saja, ada yang
masih berstatus masih duduk di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas
dan Maha Siswa , anak putus
sekolah dll.
Kehadiran
Internet membawa dampak positif maupun negatif.
Dalam penelitian ini yang akan dikedepankan adalah tentang menganalisa menurunnya
motivasi belajar siswa sebagai dampak negatif kehadiran internet. Bila di identifikasi beberapa fenomena sosial
yang tampak bahwa motivasi siswa menurun
segai dampak negatif kehadiran internet adalah seperti terdapat dibawah ini:
1. Sejumlah siswa ditemukan telah membolos dari sekolah dan
tempat-tempat privat les, para siswa
tersebut ditemukan di warung internet
2. Sejumlah siswa ditemukan masih berada
di warung internet sampai malam hari, tengah malam dan bahkan hingga pagi
harinya.
3. Sejumlah siswa lebih senang menghabiskan waktu dengan bermain game online
, mengakses jejaring sossial internet seperti Face Book, dan twiter, serta
situs-situs pornografi
Dalam penelitian ini penulis
memiliki sejumlah keterbatasan seperti
dana, waktu, tenaga, kemampuan
akademik sehingga tidak semua masalah
diteliti dan penelitian ini terbatas objek penelitian yaitu siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri yang ada di kota Pematangsiantar.
Adapun fokus permasalah dalam penelitian ini adalah
:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa
SMP Negeri di Kota Pematangsiantar.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar menjadikan warung-warung internet sebagai
sasaran tempat bermain .
3. Menganalisa
sejauh manakah menurunnya motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
Untuk lebih
operasional apa sebenarnya yang menjadi fokus permasalahan yang harus dijawab
dalam penelitian ini maka selanjutnya dirumuskanlah
pertanyaan penelitiannya sebagai berikut
:
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan menurunnya motivasi
belajar siswa SMP Negeri di Kota
Pematangsiantar.
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan
sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar
menjadikan warung-warung internet sebagai sasaran tempat bermain .
3. Sejauh manakah motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini adalah:
1. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan motivasi
belajar siswa SMP Negeri di Kota
Pematangsiantar menurun.
2. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan
sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar
menjadikan warung-warung internet sebagai sasaran tempat bermain .
3. menemukan Sejauh manakah motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
1.4 Kegunaan/Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
berguna/bermanfaat baik dari segi keilmuan/teoritis maupun dari segi praktis/fragmatis yaitu:
1. Dari segi keilmuan/teoritis hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan konstribusi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya
mengenai faktor-faktor yang menyebabkan
motivasi belajar siswa yang menurun, faktor-faktor yang menyebabkan siswa menjadikan warung
internet menjadi sasaran tempat bermain, serta sejauhmana motivasi belajar siswa menurun
akibat internet.
2. Dari
segi praktis/fragmatis hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan:
a. Kepada Pemerintah kota
Pematangsiantar beserta jajarannya sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil
langkah-langkah yang bersifat prefentif
bagaimana menyusun rencana penertiban dan pelayanan penggunaan akses internet
kepada siswa , sehingga internet tidak berdampak negatif terhadap motivasi
belajar siswa
b. Kepada orang tua siswa untuk bahan evaluasi
dalam mengawasi
dan
membina putra/putrinya sehingga motivasi belajar anak-anaknya tetap
terjaga walaupun teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat.
c. Disamping kedua manfaat praktis/fragmatis
diatas penelitian ini berguna
sebagai syarat mengikuti ujian thesis pada Program Pasca
Sarjana (S-2) program studi Ilmu Perencanaan wilayah dan
Kota di Universitas Simalungun Pematangsiantar
dalam rangka memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Magister Sains
(M.Si).
1.5 Defenisi Operasional Istilah
Dalam
tesis ini ada beberapa istilah yang
perlu dijelaskan agar setiap pembaca mendapat pemahaman yang sama
dari istilah-istilah yang digunakan, seperti :
1. Analisis
Menurut kamus
besar bahasa indonesia (Departemen Pendidikan Nasional 2005 :
43) analisa adalah :1.Penyelidikan terhadap
sesuatu peristiwa (karangan,perbuatan,dsb) untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya,dsb) 2.penjabaran sesudah dikaji sebaik
baiknya.
3.
Pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan
akan kebenarannya.
Menurut Azis,F (2009:9) analisis adalah:”Kajian atau
telaah terhadap sesuatu untuk mengetahui keadaan sebenarnya”.
Dalam penelitian ini defenisi operasional istialah analisis adalah mengkaji , menelaah dan menjabarkan suatu
persoalan untuk mengetahui keadaan sebenarnya.
2. Menurunnya Motivasi belajar
Kata menurunnya
berasal dari kata menurun.
Dalam bahasa indonesia
kata menurun berasal dari kata
dasar turun.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Departemen Pendidikan Nasioanal 2005: 1229 ) turun artinya 1.bergerak kearah
bawah; bergerak ketempat yang lebih
rendah dari semula .2. surut 3. menjadi kurang ( rendah, susut,sedikit, dsb) 4.menjadi lemah . menurun
artinya : 1. makin kedepan makin kebawah
2.pergi kebawah 3. berangsur-angsur turun(berkurang, surut).
Dalam tulisan ini defenisi
operasional menurunnya berarti
menjadi lemah, berangsur angsur
surut.
Kata motivasi berasal dari kata
‘motif” . Motif diartikan sebagai daya
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu,
sehingga seseorang mau dan ingin
melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka
maka akan berusaha untuk
meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. (Sardiaman A.M 2007
:73-75)
Dalam penelitian ini defenisi
operasional motivasi adalah adanya dorongan dari dalam diri siswa untuk melakukan kegiatan dan bila tidak suka maka orang tersebut mampu mengatasi
ketidaksukaannya itu.
Sekarang timbul pertanyaan, apakah
belajar itu sebenarnya? Samakah belajar
itu dengan latihan , dengan menghafal dengan
pengumpulan fakta, dan studi? Tentu saja
banyak pendapat yang mungkin satu
dengan yang lainnya berbeda. Misalnya ada yang berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan menghafal
sejumlah fakta-fakta. Guru merasa puas
jika siswa-siswa telah sanggup menghapal
sejumlah fakta. Pendapat lain mengatakan bahwa belajar adalah
sama dengan latihan, sehingga hasil belajar tampak dalam keterampilan tertentu.
(Slameto 2003 : 1)
Djamarah (2000:13) menyimpulkan tentang
defenisi belajar adalah serangkaian
kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkahlaku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut koqnitif, afektif , dan psykomotor.
Dalam penelitian ini defenisi operasional belajar adalah
kegiatan untuk memperoleh sejumlah pengetahuan baik melalui menghafal, membaca
buku buku yang berkaitan dengan pelajaran sekolah , mendengarkan informasi atau
penjelasan mengenai materi pelajaran
yang diberikan guru , berlatih / mengerjakan PR
yang yang diberikan guru untuk memperoleh kemampuan menguasai materi materi pelajaran yang
diberikan oleh guru di sekolah sehingga
terjadi perubahan mental, sikap dan perilaku
kearah yang lebih baik
Dimyati dan Mudjono (2009 : 239 ) mengatakan: motivasi
belajar merupakan kekuatan mental yang
mendorong terjadinya proses belajar.
Motivasi belajar pada diri siswa
dapat menjadi lemah . Lemahnya
motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. selanjutnay mutu hasil belajar akan menjadi rendah . oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu
diperkuat terus menerus . Agar siswa
memiliki motivasi belajar yang kuat , pada
tempatnya diciptakan suasana belajar
yang menggembirakan.
Dalam penelitian ini defenisi operasional motivasi belajar adalah adanya dorongan dari
dalam diri siswa untuk melakukan
kegiatan belajar dan bila mana siswa tidak suka belajar maka siswa
tersebut mampu mengatasi
ketidaksukaanya.
Jadi secara keseluruhan defenisi
operasioanal menurunnya motifasi belajar dalam tulisan ini adalah berangsur angsur surut atau melemahnya dorongan dalam diri siswa
untuk melakukan kegiatan belajar.
3. Siswa SMP negeri
Dalam
Tulisan ini yang dimaksud dengan siswa adalah semua murid baik laki laki
dan perempuan yang masih bersekolah (terdaftar
namanya )
pada
satuan pendidikan tingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP) dimana sekolah tersebut
berstatus negeri dan bukan swasta.
BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN
A. Pembahasan
Teori
1. Motivasi
Belajar dan masalahnya
Menganalisa tentang motivasi
belajar berarti menelaah, mengkaji dan menjabarkan tentang ada tidaknya
kekuatan atau dorongan dalam diri manusia itu, seberapa besar kekuatan atau
dorongan dalam diri manusia itu,dari mana sumbernya dorongan itu serta apa saja
faktor yang berpengaruh kepada seseorang
sehingga seseorang itu melakukan
suatu kegiatan yang namanya belajar. Bagi sebagian orang tidaklah mudah untuk mengarahkan dirinya untuk mau
belajar. Didalam dirinya tidak ditemukan
kemampuan atau energi untuk mengarahkan diri kepada kegiatan belajar. Orang tersebut merasa sangat sulit untuk mengabaikan atau
mengatasi berbagai hambatan atau gangguan
untuk melakukan kegiatan belajar.
Sementara diketahui bahwa begitu banyaknya terdapat hal yang bisa
mengganggu atau menghambat usaha belajar.
Agar dapat melakukan kegiatan
belajar maka didalam diri orang tersebut
harus ada dorongan untuk melakukan kegiatan belajar. Semakin besar dorongan tersebut maka semakin
intens (bergelora dan penuh semangat)
seseorang tersebut belajar.
Sebaliknya bila dorongan
itu kecil atau tidak ada maka
orang tersebut hanya sedikit sekali atau
malah tidak melakukan kegiatan belajar, atau disebut malas belajar.
Dorongan atau motivasi untuk
belajar itu ada yang berasal dari dalam
diri dan ada yang berasal dari luar
diri. Dorongan atau motivasi dari
dalam diri
disebut motivasi intrinsik.
Seseorang mau belajar atau melakukan
kegiatan belajar bukan karena dorongan dari luar. Sebagai contoh seseorang
yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh, ia sudah rajin membaca buku-buku. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan
atau ilmu dari buku-buku yang dibacanya,
bukan karena ingin mendapat
pujian atau yang lain -lain .
Berbeda dengan motivasi
ekstrinsik. Motivasi ini akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan belajar karena dipengaruhi oleh faktor perangsangan
dari luar. Misalnya kalau besok akan mengadapi ujian, maka ia
akan belajar hari ini atau malam ini, agar ia mendapat punten yang bagus dan
harapannya temannya atau kekasihnya akan memuji ia. Jadi ia belajar bukan
karena ingin mendapatkan pengetahuan, tetapi ia ingin mendapatkan nilai yang bagus, lalu dipuji oleh teman atau
kekasihnya.
Kedua bentuk motivasi ini sangat diperlukan untuk mengawal
agar kegiatan belajar setiap siswa tidak menurun. Kedua Bentuk motivasi ini baik intrinsik dan
ekstrinsik sama-sama penting.
Sardiaman
A.M ( 2007 : 91 ) mengatakan : Dalam kegiatan belajar-mengajar peran motivasi
baik intrinsik dan ekstinsik sangat
diperlukan . Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktifitas dan
inisiatif , dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Belajar
tidak pernah sepi dari diri seseorang yang memiliki motivasi intrinsik. Ia ingin selalu maju dalam belajar. Kesadarannya yang besar akan kebutuhan ilmu untuk masa kini dan masa depannnya membuat ia gemar belajar. Ia
akan mencari berbagai ilmu dari berbagai buku buku yang dibacanya. Bagi sesorang yang tidak memiliki motivasi
intrinsik sulit sekali baginya untuk belajar sendiri. Orang yang memilki motivasi intrinsik senang
melakukan kegiatan belajar sendiri.
Kegiatan belajar itu dilatar belakangi oleh pemikirannya yang positif bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna untuk masa
kini dan masa yang akan datang.
Namun
perlu disadari, sekalipun motivasi intrinsik yang tadinya telah ada dalam diri siswa
dapat saja menjadi berubah, menjadi
menurun atau melemah. Sebab tidak ada
yang permanen ,tetap dan kekal. Yang
tetap atau permanen atau yang kekal
adalah perubahan. Perubahan ini mungkin
saja terjadi dalam diri siswa
karena diri siswa juga berubah, atau perubahan itu terjadi mungkin saja karena berbagai komponen dalam
proses belajar mengajar ada yang tidak
menarik bagi siswa.
Sardiaman
A.M ( 2007:91) mengatakan: Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi
ekstrensik ini tidak baik dan tidak
penting . Dalam kaitan
belajar mengajar tetap penting
sebab kemungkinan besar keadaan
siswa itu dinamis , berubah ubah , dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa , sehinnga
diperlukan motivasi ekstrinsik.
Dalam
perubahan yang terjadi pada diri siswa
dapat membuat motivasi intrinsik pada siswa menurun sehingga motivasi belajar siswa menurun. Menurunnya
motivasi intirnsik itu dapat pula menurun pada diri siswa karena berbagai komponen dalam proses belajar –
mengajar itu ada yang kurang menarik
bagi siwa, sehingga menurunpulalah motivasi belajarnya.
Kala
mana telah terjadi perubahan dalam diri siswa yang membuat motivasi
intrinsiknya menurun maka disinilah diperlukan motivasi ekstrensik. Motivasi
ektrinsik menggerakkan siswa untuk belajar, namun bukan pada esensi belajarnya. Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa
didasari oleh motif diluar
esensi apa yang dipelajarinya. Dapat dicontohkan, ketika seorang ibu belajar
membaca maka motif belajar baginya bukanlah untuk mengetahui membaca,
tetapi diluar dari pada itu.
Motifnya misalnya supaya tetangga
memuji dia karena sudah tahu membaca.
Dalam
kegiatan belajar mengajar disekolah setiap guru selalu mendorong siswanya untuk
mau belajar. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru untuk
memotivasi siswanya agar siswanya mau
belajar. Memberi hadiah bagi para jura di sekolah ketika pembagian rapor , memuji siswa yang dapat menjawab PR dengan benar, menyapa siswa dengan ramah, membuat kegiatan
perlombaan, dll adalah merupakan usaha
agar siswa termotivasi belajar. Guru
yang berhasil memotivasi anak untuk
belajar akan tampak dari kegiatan siswa
belajar. Tetapi bila guru tidak berhasil memotivasi siswa
belajar maka kita akan menemukan siswa yang malas belajar. Kegiatan belajar siswa menjadi tidak kelihatan ada. Siswa menjauhi kegiatan membaca buku, menjauhi
pekerjaan mengerjakan PR, tidak mau
perduli ketika guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Tanda-tanda seperti
itu adalah merupakan konotasi menurunnya
motivasi belajar siswa.
Dalam
menggerakkan siswa belajar adakalanya motivasi ekstrinsik menjadi bersifat negatif
ataupun menjadi bersifat positip.
Kesalahan Guru dalam penggunaan motivasi ekstrinsik ini bukan justru
membuat siswa menjadi termotovasi belajar, tetapi yang terjadi adalah
sebaliknya. Motivasi belajar siswa
menjadi menurun. Siswa menjadi benci kepada guru tersebut dan tidak lagi
berminat kepada mata pelajaran yang
diampu guru tersebut.
Motivasi ekstrinsik yang bersifat
positip seperti pujian, hadiah,
piagam
penghargaan atau bentuk bentuk yang lain dapat
merangsang siswa untuk belajar.
Selain
itu respon terhadap perilaku siswa pun
dapat bersifat positip. Disamping
kegiatan belajarnya yang semakin intens
maka perilaku yang
menunjukkan siswa sebagi anak yang terdidik pun tampak dalam kehidupan
sehari-harinya.
Motivasi ekstrinsik yang bersifat
negatif seringakali tidak menunjang
proses interaksi belajar mengajar yang
tidak edukatif. Memberikan hukuman
kepada siswa yang tidak mengerjakan PR seperti diberlakukannya hukuman fisik,ejekan,
dan sindiran mungkin akan membuat siswa
menjadi perduli dan mau belajar.
Pekerjaan Rumah yang tadinya jarang /tidak pernah dikerjakan
, kini menjadi dikerjakan. Pemberian
hukuman itu memang menggerakkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Tetapi
pemberian hukuman itu memiliki efek pengirng seperti terjadinya kerenggangan
hubungan antara guru dengan siswa.
Siswa dapat saja menjadi benci kepaga guru dan tidak menyukai lagi
berbagai hal dari guru tersebut. Kondisi
seperti ini dapat menurunkan motivasi belajar siswa, atau melemahkan motivasi
belajar siswa.
Memuji sebagai salah satu bentuk motivasi ektrinsik
hendaklah dalam situasi yang proporsioanl.
Bila pujian itu tidak pada momen dan porsi yang tepat maka akan berubah
menjadi ejekan, sindiran . Maka kealpaan seperti ini hendaklah menjadi perhatian
setiap guru, Sebab dapat menurunkan motivasi belajar siswa.
Djamarah (2011:152) mengatakan :Baik motivasi ekstrinsik yang positif dan
motifasi ektrinsik yang negatif
sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diakui angka,
ijazah,pujian, hadiah dan sebagainya
berpengaruh positif dengan merangsang
anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan, celaan, hukuman yang menghina
sindiran kasar, dansebagainya
berpengaruh negatif dan
merenggangnya hubungan guru
dengan anak didik. Jadilah guru sebagai
orang yang dibenci oleh anak didik.
Efek pengiringnya, mata pelajaran yang dipegang guru itu tidak disukai
anak didik.
Djamarah (2011:152 – 156) mengatakan bahwa ada beberapa prinsip-prinsip motivasi
dalam belajar yaitu :1.Motivasi
Sebagai Dasar Penggerak Yang Mendorong
Aktivitas Belajar. 2. Motivasi intrinsik lebih utama dari pada
motivasi ekstrinsik. 3.
Motivasi pujian lebih baik dari pada
hukuman. 4.Motivasi Berhubungan erat
dengan kebutuhan dalam
belajar. 5. Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.
6. Motivasi melahirkan pretasi dalam belajar.
Ada satu hal yang menjadi
perahatian dalam keterangan Djamarah
mengenai prisip-prinsip motivasi dalam belajar. Beliau mengatakan bahwa ada
efek yang tidak diharapkan dari
pemberian motivasi ekstrinsik yaitu kecenderungan
ketergantungan anak didik terhadap sesuatu diluar dirinya. Anak juga
kurang percaya diri , bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. oleh karena
itulah motivasi intrinsik lebih utama dari motivasi ekstrinsik.
Pendapat Djamarah yang
memberi penjelasan bahwa anak
yang diberi motivasi ekstrinsik menjadi mudah terpengaruh. Menyetir pendapat ini dapat dikatakan
efek yang tidak diharapkan dari perbuatan memberi motivasi ekstrinsik kepada siswa adalah
membuat siswa menjadi mudah terpengaruh, dan bisa saja siswa mudah menurun
motivasi belajarnya karena dipengaruhi oleh sesuatu di lingkungan sekitarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari siswa
bergabung dengan berbagai latarbelakang mental siswa yang lain. Diantaranya ada yang bermental buruk.
Sesuai
dengan pendapat Djamarah, Mental buruk ini tentu saja mudah di serap oleh siswa yang mendapat
motivasi ekstrinsik. Bila
anak bertemu dengan orang yang malas
belajar, maka iapun menjadi malas
belajar. Jadi menurunnya motivasi
belajar siswa dapat terjadi sebagai bentuk nyata dari rapuhnya kondisi
psykologis siswa, yang diakibatkan oleh
pemberian motivasi ekstrinsik.
Memotivasi siswa seperti seperti
memuji (motivasi ekstrinsik) haruslah pada momen dan kondisi yang tepat. Seperti dijelaskan sebelumnya bila pada tid momen
yang tepat dapat mengandung makna ejekan dan
sindiran. Selain adanya makna
ejekan dan sindiran maka pujian pun dapat memicu terjadianya kecemburuan
dikalangan siswa dan selanjutnya
menurunkan motivasi belajar siswa.
Contohnya bila dalam proses belajar mengajar ada siswa yang selalu
mendapat pujian, maka siswa yang
lain mungkin cemburu. Mereka merasa telah dikesampingkan karena
telah terjadi pilih kasih. Mereka merasa
tidak diperhatikan, mereka merasakan
bahwa hanya orang tertentu saja yang baik . Akhirnya perasaan kecemburuan itu
telah memicu pada menurunnya motivasi
belajar siswa.
Djamarah
(2011:164) mengatakan : Banyak anak
didik yang iri terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapatkan
tujuan dan perhatian ekstra dari guru .
Mereka malas belajar karena
menganggap guru pilih kasih dalam dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap
negatif anak didik ini harus
diredam dengan menempatkan anak didik
secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai
individu, bukan kepada yang canti atau
yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap
guru. Tetapi merupakan
figur yang disenagi dan dikagumi.
Menurunnya motivasi belajar siswa akan selalu terkait dengan faktor-faktor diluar
dirinya dan faktor faktor dari dalam dirinya. Motivasi belajar siswa yang menurun berarti
siswa mengurangi atau mengabaikan perhatiannya
terhadap kegiatan belajar. Padahal kegiatan belajar itu pada intinya untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai.
Menghindari kegiatan belajar sebenarnya berpengaruh dalam perkembangan kepribadian . Analoginya adalah bila siswa tidak belajar maka ia akan tidak akan mendapatkan pengetahuan, ketramilan dan
tidak terjadi penanaman sikap/ mental.
Dimyati
dan Mudjiono (2009:239) mengatakan : “ akibat penerimaan, penolakan atau pengabaian kesempatan belajar tersebut
akan berpengaruh pada pekembangan
kepribadian”
2.
Beberapa Layanan Internet Dalam kaitannya dengan motivasi belajarsiswa
Banyak
manfaat yang bisa kita nikmati dalam
layanan internet. Manfaat yang dapat kita bisa kita dapatkan di internet misalnya , mencari hiburan di
internet, mencari berita dan informasi di internet, berbisnis di internet, mempublikasikan foto dan tulisan di internet,
berkomunikasi di internet, menyimpan
data di internet, dan berbagai gratisan pun
tersedia diinternet.
Disamping
adanya manfaat internet bagi kehidupan manusia maka internetpun diakui telah
membawa dampak negatif. Didalam
internet tersimpan berjuta bahkan bermilliar informasi yang dapat diakses oleh
siapa saja. Salah satu bentuk data yang
tersimpan didalam internet yang dikhawatirkan paling berdampak buruk bagi
remaja seperti siswa setingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama ) adalah
pornografi. Data atau informasi
pornografi ini tersimpan dalam bentuk yang berbeda. Ada yang berbentuk teks , gambar dan
ada pula yang gambar beserta
suara. Bentuk teks maksudnya
adalah cerita- cerita yang berbau sek,
gambar maksudnya adalah foto-
toto syuur dan mengedepankan seksualitas, serta gambar dan beserta suara maksudnya adalah vidio-vidieo porno.
Bila
mengetehaui alamat web dari jaringan
yang menyimpan informasi pornografi maka setiap orang dapat membaca, melihat atau
menontonnya. Bagi siswa yang berada dalam golongan umur remaja hal pornografi adalah sesuatu yang paling
menarik perhatiannya. Sebab rasa
ingintahu yang tersimapan dalam dirinya serta dorongan seksualitas yang mengarahkannya ketempat-tempat yang pas.
Warung-warung internet tampaknya menjadi tempat yang pas, sebab biasanya
pemilik warung internet tidak selalu
perduli dengan berbagai macam situs internet yang diakses oleh pengunjungnya.
Melalui HP (hand phon) sebenarnya dapat juga di akses situs-situs yang berbau porno grafi tersebut, tapi
berbagai alasan seperti biaya, dan
teknologi yang berbeda membuat pilihan
dijatuhkan untuk mengunjungi warung internet. Bagi yang memiliki internet yang tersedia
dirumahpun sebenarnya juga dapat
mengakses sistus situs porno tersebut.
Tapi alasan tertentu seperti
adanya orang tua, dan saudara yang memantau membuat pilihan untuk mengunjungi warung-warung internet.Tidak semua siswa
mampu mengatasi ketertarikannya terhadap hal yang berbau
seks. Hal ini tergantung pada kekuatan nilai moralitas dan nilai spritual
seseorang. Bila moralitas dan
spritualitasnya baik, maka orang itu tentu dapat menahan diri
atas hal-hal yang berbau pornografi.
Dengan ketertarikanya kepada ‘menu’ pornografi yang tersedia di
internet hal ini dapat melemahkan atau menurunkan motivasi belajar siswa. Dikatakan dapat melemahkan motivasi belajar
siswa karena siswa tersebut tidak dapat
mengalahkan atau mengabaikan ketertarikannya kepada situs pornografi , sehingga
akhirnya siswa bolos dan berada di warung-warung internet
pada saat kegiatan proses belajar mengajar
berlangsung disekolah.
Terkadang
,tanpa mengetahui alamat web
sistus-situs pornografipun layanan internet menyuguhkan pornografi. Ketika tidak ada niatpun untuk mencari situs porno grafi tetapi layanan menyuguhkan pornografi. Itulah slah satu kejahatan yang dapat kita
temukan pada layanan internet. Layanan
internet tidak bisa steril dari
pornografi. Jadi kejahatan pornografi
yang ada di internet itu merasuki para siswa yang sudah pernah
menyaksikannya. Keesokan harinya pun ada
kemungkinan ia teringat, lalu ia membolos dari sekolah. Sesudah jam pulang sekolah siswa masih
berada di warung internet, seharusnya ia akan pergi ladi ke tempat-tempat bimbingan belajar , tapi ia
tak dapat mengesampingkan “candunya”
internet. Demikian hingga seore, malam bahkan ada yang hingga pagi
harinya warung internet menjadi tempat
yang sangat dinikmatinya.
Djamarah
(2011:246) mengatakan : kebangkitan
perilaku seksualitas diatas disebabkan faktor-faktor luar diri remaja, seperti buku porno, filim cabul
dan gambar porno. Anak didik yang sudah
pernah melakukan perbuatan jahiliah
itu sulit untuk menerima pelajaran
disekolah , karena mereka cenderung
berkhayal tentang kenikmatan seks. keinginan untuk selalu berdampingan
dengan lawan jenis lebih besar
dari pada hasrat untuk belajar. Kerinduanseksual yang tak tersalurkan membuat mereka tidak dapat memusatkan
perhatian dalam belajar.
Selain
pornografi permainan game on-line turut menarik siswa yang tidak memiliki
motivasi belajar. Waktu demi waktu habis
dalam permainan di warung internet. Permainan game on-line pun mampu
mengalahkan motivasi belajarnya. Bagi siswa yang memiliki motivasi belajar yang
kuat game on-line yang tersedia di internet
tidak mengganggu pemikirannya dan ia terus saja belajar.
Layanan
yang lain yang tersedia di internet adalah Chatting. Melalui layanan ini kita dapat berkomunikasi
dengan orang lain melalui tulisan. Kita
tidak dapat melihat ekspresi lawan bicara kita demikian juga sebaliknya . Atau kita tidak menetahui siapa lawan bicara
kita. Namun demikian bagi sebagian
siswa ada saja yang maniak
Chatting. Rela mengabiskan waktu
berjam-jam di depan layar komputer.
Alam pemikirannya tertuju kepada pembicaraan yang mengabaikan
tugasnya sebagai pelajar. Sebagai seorang siswa tugasnya seharusnya adalah belajar. Tapi Maniak chatting telah merasuki jiwanya, dan mengalahkan motivasi
belajarnya.
Pandia
(2007 : 172-173) mengatakan bahwa ada bebrapa dampak negatif dari Chatting
yaitu : 1. Mengobrol tidak senonoh; Orang yang sedang chatting seringkali
terjerumus kedalam pembicaraan yang tidak senonoh seperti pornografi. 2.
membuat rematik dan otot
pegal; duduk didepan komputer dalam jangka waktu yang lama dapat
mengakibatkan penyakit rematik dan pegal-pegal pada otot punggung maupun jari
tangan. 3. maniak Chatting; Chatting menjadi sangat
menyenangkan apalagi bertemu
dengan orang yang tepat. 4.
Berhubungan dekat dengan orang yang tidak jelas; Tidaklah baik berhubungan dekat dengan orang
yang tidak jelas, sebab tidak semua
orang yang kita temui adalah orang yang
jujur.
Satu
lagi layanan internet sebagai layanan jejaring sosial adalah Facebook dan
tweter. Jejaring sosial ini pun cukup
‘laris’ di seluruh dunia. Melalui jaringan ini seseorang dapat menjalin
komunikasi dengan orang lain.
Melaui pesan teks yang kita kita kirim kita dapat saling bertukar
informasi atau
memberitahukan apa yang kita sudah
lakukan kepada orang lain di seluruh dunia.
Jejaring sosial ini pun punya
daya magnetis yang kuat. Banyak waktu yang
tersita di depan layar komputer atau HP karena
bermain facebook atau tweeter. Waktu yang seharusnya dapat
digunakan untuk kegiatan belajar seperti
membaca buku, mengerjakan PR dan tugas lain
habis di ‘telan’ facebook ataupun
tweeter.
Sofia
dan Prianto (2010:158) mengatakan : “sekarang didunia termasuk indonesia telah terserang “demam facebook”.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Dalam sebuah tulisan yang berjudul
Dibalik Menurunnya Motivasi Belajar Siswa yang ditulis oleh Hendriana yang berupa sebuah artikel
yang dimuat oleh koran Singgalang menyebutkan
Berkurangnya semangat belajar para siswa, pada akhirnya akan menyebabkan kurang
betahnya siswa untuk mengikuti proses belajar di sekolah. Sehingga ada sebagian
dari siswa yang lebih memilih untuk tidak hadir atau “cabut” di saat ada mata
pelajaran atau salah seorang guru yang tidak disukainya.
Tidak hanya sebatas faktor materi pelajaran dan cara
guru yang kurang menarik dalam menyampaikan materi pelajaran yang menyebabkan
berkurangnya semangat belajar para siswa. Lingkungan antarteman pun besar
pengaruhnya. Apa yang dikatakan guru tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran
meskipun guru itu disegani. Ajakan-ajakan dari teman itu lebih berpengaruh.
Tidak sedikit para siswa yang melakukan perbuatan asusila, seperti halnya
merokok, minuman keras, narkoba, hingga perbuatan mesum lainnya. Di televisi pun
hampir setiap tayangan-tayangan kriminal menyajikan perbuatan-perbuatan mesum,
dimulai dari rekaman melalui handpone hingga tersebar melalui internet. Semua
itu tidak lepas dari interaksi antar teman.
Begitu banyak faktor-faktor yang
menyebabkan berkurangnya semangat belajar para siswa dan perkembangan jiwa para
remaja. Akan tetapi bagaimanapun keluarga dan sekolah masih tetap merupakan
lingkungan primer dan sekunder artinya lingkungan pertama dan kedua yang
berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian dalam dunia anak dan remaja
(siswa). Lingkungan masyarakat bisa begitu kuat berpengaruh pada umumnya
disebabkan karena lingkungan primer dan sekunderlah yang sudah menurunkan kadar
pengaruhnya. Oleh karena itu, untuk dapat mengurangi sebanyak mungkin pengaruh
yang negatif, maka lingkungan orang tua dan pendidik di sekolahlah yang harus
meningkatkan kembali fungsi mereka sebagai pengendali lingkungan primer dan
sekunder. Hendriana, koran Singgalang, Faktor dibalik menurunnya motivasi
belajar siswa, diakses tanggal 1 juni 2012
Purbo
mengatakan dalam sebuah
Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 bertajuk "Peran TI dalam
Membangun Pendidikan Berkarakter" yang dihadiri 40-an peneliti TI dan
puluhan mahasiswa STIKOM Surabaya. Internet
juga mengajarkan keburukan yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya.
Bahkan, situs porno di dunia saat ini mencapai 10 juta situs dengan satu miliar
halaman. Purbo, AntaraNews.com, Peran TI dalam Membangun Pendidikan
Berkarakter, diakses 1 Juni 2012. < http://mindmapclubindonesia.blogspot.com/2011/10/onno-purbo-internet-ajarkan-karakter.html>
Dalam
sebuah koran Metro Siantar Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa hasil penelitian di 12 kota besar di Indonesia termasuk Medan ;
97 % siswa SMP pernah membuka dan
melihat serta menonton film porno.
92% sudah pernah melakukan oral
seks. 61% sudah pernah melakukan zinah, dan 21,2% sudah pernah melakukan aborsi. Hasil penelitian itu dikemukakan oleh Tifatul
Sembiring dalam sebuah acara “Depkominfo
Goes to Mall” bersama PT Eksel Axiata
Tbk, sebuah road show keseluruh indonesia
dalam rangka mendorong penggunaan internet sehat bagi seluruh pelajar
dan mahasiswa indonesia. Metro Siantar, diakses tanggal 1 juni
2012. <http://issuu.com/metrosiantar/docs/selasa_27_marer_2012?mode=window&pageNumber=1>
Kepala
Dinas Kominfo Ir.Zulkifli Sitepu mengaku khawatir terhadap penyalahgunaan
tekhonologi komunikasi seperti warung internet oleh kalangan pelajar. Dalam rajia yang dilakukan fihaknya ditemukan
siswa SD dan SMP yang bermain internet di saat jam-jam pelajaran. Oleh karena itu Ia mengajak sekolah-sekolah
turut mengawasi penggunaan internet oleh para pelajar terutama pada jam jam
sekolah . Kemajuan teknologi internet telah menjadi bisnis saat ini. Sementara
pantauan Analisa di lapangan anak sekolah bermain internet saat jam pelajaran
khususnya di Jalan Sunggal. Kondisi ini ternyata tidak mendapat perhatian
pengeloa warnet. Selain itu, anak-anak tersebut ternyata tidak memanfaatkan
warnet sebagai media mencari ilmu tapi lebih untuk bermain game online. Koran
Analisa,
Diskominfo Minta Dinas Pendidikan Ajak Sekolah Awasi Warnet; diakses tanggal 1
jumi 2012 http://www.analisadaily.com/news/read/2012/03/31/43373/diskominfo_minta_dinas_pendidikan_ajak_sekolah_awasi_warnet/#.T8kTZGUc1Y1
Suyatno
(2011 :9-11) dalam penelitian di SMP/ SMA diwilayah kabupten bogor mengatakan: sebanyak 99 siswa (61,11% dari
jumlah responden) menikmati pornografi di warnet. Padahal secara global siswa (93,83 %) mengetahui
haramnya pornografi .Penelitian mengungkapkan bahwa siwa
mendapatkan materi pornografi cukup
beragam, Seperti dari teman, dari HP, dari warnet dan membeli. Sumber mereka
mendapatkan materi pornografi yang
lebih dominan adalah melalui teman dan melalui internet .Dan dari data
yang diperoleh melalui angket
menunjukkan bahwa pornografi
membuat kecanduan. Pernyataan kecanduan ini didukung oleh data angket yang
mengatakan bahwa 15,43 % siswa ingin
menikamti lagi pornografi. Dalam
penelitian yang dilakukan, dengan menggunakan analisa regresi diperoleh hasil bahwa pornografi dapat
menurunkan motivasi belajar siswa namun tidak signifikan. Penelitian juga mengungkapkan bahwa pornografi mempengaruhi kedisiplinan siswa . Hasil regresi
miniab dimana diperoleh hasil bahwa 95 %
pornografi mempengaruhi
kedisiplinan secara signifikan . Jurnal
pendidikan dompet duafa edisi I/2011 : Pengaruh Pornografi Terhadap Perilaku Belajar
Siswa (Studi Kasus : Sekolah Menengah X) diakses 1 juni 2012 ; <http://purwoudiutomo.com/wp-content/uploads/2011/09/
Pengaruh-Pornografi-terhadap-Perilaku-Belajar Siswa.pdf>
c. Rangkuman
Kajian Pustaka
1. Sardiaman A.M ( 2007 : 91 )
mengatakan : Dalam kegiatan belajar- mengajar
peran motivasi baik intrinsik dan ekstinsik
sangat diperlukan . Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan
aktifitas dan inisiatif , dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam
melaksanakan kegiatan belajar.
2. Sardiaman
A.M ( 2007:91) mengatakan: Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi
ekstrensik ini tidak baik dan
tidak penting . Dalam kaitan
belajar mengajar tetap penting
sebab kemungkinan besar keadaan
siswa itu dinamis , berubah ubah , dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa , sehinnga
diperlukan motivasi ekstrinsik.
3. Djamarah (2011:152) mengatakan :Baik
motivasi ekstrinsik yang positif dan motifasi ektrinsik yang negatif sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku
anak didik. Diakui angka, ijazah,pujian, hadiah
dan sebagainya berpengaruh positif
dengan merangsang anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan,
celaan, hukuman yang menghina sindiran kasar, dansebagainya berpengaruh negatif dan merenggangnya
hubungan guru dengan anak
didik. Jadilah guru sebagai orang yang dibenci oleh anak didik. Efek pengiringnya, mata pelajaran yang
dipegang guru itu tidak disukai anak didik.
4. Djamarah (2011:152 – 156) Beliau mengatakan bahwa ada
efek yang tidak diharapkan dari
pemberian motivasi ekstrinsik yaitu kecenderungan
ketergantungan anak didik terhadap sesuatu diluar dirinya. Anak juga
kurang percaya diri , bermental pengharapan dan mudah terpengaruh
5. Djamarah (2011:164) mengatakan : Banyak anak didik yang iri
terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapatkan tujuan dan perhatian ekstra dari guru .
Mereka malas belajar karena
menganggap guru pilih kasih dalam dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap
negatif anak didik ini harus
diredam dengan menempatkan anak didik
secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai
individu, bukan kepada yang canti atau
yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap
guru. Tetapi merupakan
figur yang disenagi dan dikagumi
6. Dimyati dan Mudjiono (2009:239)
mengatakan : “ akibat penerimaan, penolakan
atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan berpengaruh pada pekembangan kepribadian”
7. Djamarah (2011:246) mengatakan :
kebangkitan perilaku seksualitas diatas
disebabkan faktor-faktor luar
diri remaja, seperti buku porno, filim cabul dan gambar porno. Anak didik yang sudah pernah melakukan perbuatan jahiliah itu sulit untuk menerima pelajaran disekolah , karena mereka cenderung berkhayal tentang kenikmatan seks. keinginan untuk selalu berdampingan
dengan lawan jenis lebih besar
dari pada hasrat untuk belajar. Kerinduanseksual yang tak tersalurkan membuat mereka tidak dapat memusatkan
perhatian dalam belajar.
8. Pandia (2007 : 172-173) mengatakan bahwa ada bebrapa dampak negatif dari Chatting
yaitu : 1. Mengobrol tidak senonoh; Orang yang sedang chatting seringkali
terjerumus kedalam pembicaraan yang tidak senonoh seperti pornografi. 2.
membuat rematik dan otot
pegal; duduk didepan
komputer dalam jangka waktu yang lama
dapat mengakibatkan penyakit rematik dan pegal-pegal pada otot punggung maupun
jari tangan. 3. maniak Chatting; Chatting menjadi sangat
menyenangkan apalagi bertemu
dengan orang yang tepat. 4.
Berhubungan dekat dengan orang yang tidak jelas; Tidaklah baik berhubungan dekat dengan orang
yang tidak jelas, sebab tidak semua
orang yang kita temui adalah orang yang
jujur.
9. Sofia dan Prianto (2010:158)
mengatakan : “sekarang didunia termasuk
indonesia telah terserang “demam facebook”.
10. Purbo
mengatakan dalam sebuah
Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 Internet juga mengajarkan keburukan
yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya
11. Menkominfo Tifatul
Sembiring mengatakan bahwa hasil
penelitian di kota besar di Indonesia termasuk Medan ; 97
% siswa SMP pernah membuka dan melihat
serta menonton film porno. 92% sudah pernah melakukan oral seks. 61% sudah
pernah melakukan zinah, dan 21,2% sudah pernah melakukan aborsi.
12. Kepala
Dinas Kominfo Ir.Zulkifli Sitepu mengaku khawatir terhadap penyalahgunaan
tekhonologi komunikasi seperti warung internet oleh kalangan pelajar. Dalam rajia yang dilakukan fihaknya ditemukan
siswa SD dan SMP yang bermain internet di saat jam-jam pelajaran.
13. Suyatno (2011 :9-11) dalam penelitian di SMP/ SMA diwilayah kabupten bogor mengatakan sebanyak 99 siswa (61,11% dari jumlah
responden) menikmati pornografi di warnet. pornografi membuat kecanduan. bahwa pornografi dapat menurunkan motivasi
belajar siswa namun tidak signifikan.
Penelitian juga mengungkapkan
bahwa pornografi mempengaruhi
kedisiplinan siswa . Hasil regresi miniab
diperoleh hasil bahwa 95 %
pornografi mempengaruhi
kedisiplinan secara signifikan .
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
SIMALUNGUN
PEMATANGSIANTAR
2012
T
E S I S
ANALISIS MENURUNNYA
MOTIVASI BELAJAR SISWA DI KOTA PEMATANGSIANTAR
Oleh
RAJUTA
SEMBIRING
NPM
: 111351019
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk
Memperoleh Gelar Magister Sains (M.Si)
dalam
Program Studi Ilmu Perencanaan
Wilayah dan Kota
Universitas
Simalungun

PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
SIMALUNGUN
PEMATANGSIANTAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Salah satu fenomena pendidikan yang
dapat kita temui di kota Pematangsiantar adalah banyaknya siswa yang dapat kita
temui diwarung warung internet baik
ketika proses belajar mengajar di
sekolah sedang berlangsung maupun diluar jam sekolah. Siswa bermain dengan
bebasnya, dan pelajaran pun ditinggalkan . Tampaknya warung internet menjadi
tempat yang nyaman bagi para siswa, karena disana mereka dapat melakukan apa yang mereka mau.
Ketersediaan internet dikota
Pematangsiantar di satu sisi telah meresahkan orang tua, dan fihak sekolah
serta Pemerintah Kota Pematangsiantar.
Tidak sedikit orang tua yang cemas karena anak yang mereka cintai belum
juga tiba dirumah, yang seharusnya menurut jadwal-jadawal belajar anak bahwa
anak itu sudah tiba dirumah. Sehingga
orang tua harus direpotkan oleh ulah sianak.
Orang tua harus mencari putra/putri mereka ketempat-tempat yang belum
pasti. Para guru disekolah harus
mempertanyakan ketidak hadiran mereka kalamana mereka cabut atau tidak hadir disekolah karena
alasan-alasan yang mencurigakan.
Pemerintah Kota Pematangsiantar mendapat tambahan tugas untuk merazia
para siswa yang berkeliaran dipusat-pusat keramaian pada jam-jam belajar, dan
tidak sedikit siswa yang terjaring razia kasih sayang di temukan di
warung-warung internet.
Sebagai contoh, dalam suatu razia
Kasih Sayang yang dilakukan oleh
Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam
hal ini Polsek Siantar Utara Kota pada hari Jumat , 24 February 2012 yang beru
lalu, sebanyak 13 (tiga belas)
siswa terjaring di warung internet dan
bilyard dalam suatu operasi rajia kasih sayang yang dilakukan oleh Polsek
Siantar Utara Kota. Mereka berada di warung internet dan bilyard karena bolos sekolah. Operasi kasih
sayang ketika itu dilakukan sekitar pukul 10.00 dipimpin Kapolsek Siantar
Utara AKP M Nababan. TRIBUNnews, Bolos Saat Sekolah 13
Pelajar di ciduk Polisi , diakses tanggal
17 Mei 2012 <http://www.tribunnews.com/2012/02/24/bolos-saat-sekolah-13-pelajar-diciduk-polisi>
Pada berita lain Ekspos NEWS
menuliskan bahwa Razia Kasih Sayang yang dilakukan Selasa ,21 Februari 2012
terjaring 48 (empat puluh delapan siswa), dan uniknya satu diantaranya masih duduk dikelas IV SD dari salah satu SD Negeri di Naga Huta. Ia mengaku
sejak berangkat dari rumah pukul
6.30 langsung menuju warnet dan bermain
poin blank. Menurut Tim Polres Pematangsiantar
yang melakukan Rajia Kasih sayang tersebut, mereka membagi tim menjadi 2 (dua),
satu tim berhasil menjaring 36 (tiga puluh enam) siswa yang terdiri dari 25
(dua puluh lima) siswa SLTA dan 11 (sebelas) siswa SLTP yang keseluruhannya
laki-laki. Sementara tim yang satunya lagi berhasil menjaring 8 (delapan) siswa SLTA, yang terdiri dari 7
(tujuh) laki-laki dan 1 (satu) perempuan.
Selanjutnya menjaring lagi 4 (empat ) siswa lagi yang terdiri dari 3
(tiga) siswa SMP dan 1 (satu ) siswa SD.
Seluruh siwa ditemukan di warnet, bilyard dan Pasar horas pada
jam belajar disekolah sedang berlangsung. Kasat Pembinaan Masyarakat
(Binmas) Polres Pematangsiantar AKP
T.Sitepu mengatakan Operasi kasih sayang
ini merupakan kegiatan yang rutin
dilakukan
untuk
menekan jumlah siswa yang bolos. Eksposnews,
Siswa SD di Siantar Terjaring Razia Kasih Sayang, di akses tanggal 17 Mei
2012 <http://eksposnews.com/view/14/32397/Siswa-SD-di-Siantar-Terjaring-Razia-Kasih-Sayang.html>
Dalam
sebuah berita Metro Siantar menuliskan
Rajia Kasih Sayang yang dilakukan Rabu, 29 Februari 2012 oleh Tim Patroli
sekolah Dinas Pendidikan Pematangsiantar berhasil menjaring 35 (tiga pulu lima)
orang pelajar di Siantar. Ketua tim
Patroli Sekolah Juniar Sinaga mengatakan, penangkapan itu dilakukan berdasarkan
informasi dari masyarakat. Katanya, siswa tertangkap sekira pukul 11.00 WIB
dari lokasi warnet di Jalan Diponegoro, Siantar Plaza Jalan Merdeka dan Pasar
Horas. Metro Siantar, Rajia kasih
sayang, 35 siswa terjaring. Diakses 17 Mei 2012. <http://www.metrosiantar.com/index.php/Metro-Siantar/razia-kasih-sayang-35-siswa-terjaring.html>
Razia yang dilakukan oleh Polres
Kota Pematangsiantar dan Tim Patroli
Sekolah Dinas Pendidkan Pematangsiantar sebenarnya adalah penggalan dari
keseluruhan kegiatan yang terjadi di warung-warung Internet di
kota Pematangsiantar . Apa yang mereka lakukan masih terbatas pada siang
hari. Rajia Kasih Sayang bila dilakukan
di malam hari maka akan menjaring lebih
banyak pelajar di kota Pematangsiantar.
Sebab menurut pengamatan Penulis banyak pelajar di Kota Pematangsiantar
masih berada di warung-warung internet hingga larut malam bahkan hingga pagi
hari.
Dari beberapa informasi diatas
memberikan keterangan kepada kita bahwa telah terjadi suatu fenomena baru kehidupan pelajar dikota Pematangsiantar. Seharusnya sebagai
seorang pelajar hendaklah menunjukkan sikap dan perilaku pelajar. Ketika
jam-jam sekolah sedang berlangsung maka pelajar patutnya berada disekolah, dan
bila malam telah tiba pelajar patutnya berda dirumah, mengerjakan PR yang diberikan oleh Guru atau
mempersiapkan keperluan untuk bersekolah besok harinya.
Internet tampaknya telah mengusik
motivasi belajar sebagian siswa di kota
Pematangsiantar. Para pelajar yang
terusik motivasi belajarnya karena
sesuatu hal menunjukkan bahwa sebenarnya telah terjadi penurunan
motivasi belajar sebagai dampak dari internet.
Secara teori bila terjadi penurunan motivasi belajar , maka akan segera
tampak pada hasil belajar yang semakin buruk.
Bila hasil belajar dibiarkan semakin buruk oleh karena terusiknya motivasi
belajar siswa karena dampak negatif internet maka sudah
seharusnyalah dikerahkan berbagai upaya
untuk memulihkan hal itu.
Perlu diketahui bahwa
motivasi belajar adalah satu hal yang
perlu ditumbuhkan, di pelihara , dijaga dan dikembangkan dalam rangka meraih hasil belajar yang
optimal. Seseorang dapat gagal karena
tidak memliki motivasi belajar walaupun dia memiliki inteligensia yang cukup.
Sardiaman A.M (2007:84-85) mengatakan: Begitu juga untuk belajar sangat
diperlukan adanya motivasi . Motivation
is an essensial condition of learning.
Hasil belajar akan menjadi optimal , kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan
makin berhasil pula pelajaran itu.Jadi motivasi akan senantiasa menentukan
intensitas usaha belajar bagi para siswa.
Dalam perkembangan terkini
dinegara kita masalah pendidikan menjadi isu penting. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang
pro-pendidikan dapat kita telusuri dari berbagai perundang-undangan yang ada. UUD NRI Tahun 1945 telah mengamanatkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN
serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaran pendidikan nasional.
Porsi anggaran pendidikan
minimal 20 % dari APBN serta dari APBD adalah satu keputusan konstitusional yang menunjukkan kesadaran bangsa Indonesia akan perlunya memajukan Pendidikan
Nasional untuk mengejar berbagai
ketertinggalan Bangsa Indonesia . Terlebih lagi adalah suatu cita-cita untuk
mensejajarkan Bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa terkemuka di dunia. Keputusan yang menetapkan anggaran pendidikan
minimal 20% dari APBN serta dari APBD adalah suatu refleksi kesadaran Bangsa
Indonesia akan perlunya anak anak Indonesia
bersekolah dan harapan tidak akan adalagi anak-anak Indonesia yang putus
sekolah karena ketiadaan biaya. Namun
andaikan ada siswa di Pematangsiantar harus putus sekolah karena dampak negatif
Internet maka dapat dikatakan anak anak
Indonesia yang bersekolah di Pematangsiantar
tidak merespon amanat UUD NRI tahun 1945. Andaikan juga anak anak Indonesia yang
bersekolah di Pematangsiantar telah menurun motivasi belajarnya karena dampak
negatif internet maka kiranya kajian-kajian melalui penelitian perlu
diadakan untuk mengetahui seluk beluk
yang terjadi didalamnya, sehingga dapat
diterapkan langkah langkah yang tepat
untuk pencerahannya.
Sejatinya tidak boleh ada
anak-anak dikota Pematangsiantar menjadi menurun motivasi belajarnya karena ketersediaan layanan
internet. Anak-anak kota ini diharapkan
memilki motivasi belajar yang
tinggi untuk terus belajar agar hasil belajarnya dapat optimal,
sehingga dikemudian hari dapat
meneruskan tongkat estafet perjuangan membangun kota Pematangsiantar. Ketersediaan
internet di kota Pematangsiantar
tidaklah bermaksud menurunkan Motivasi
belajar siswa di Kota Pematangsiantar.
Sejatinya layanan internet di
Kota Pematangsiantar adalah wujud dari perkembangan Teknologi informasi
komputer yang memudahkan setiap penggunanya dalam mengakses berbagai informasi yang berguna bagi dirinya. Namun bila terjadi bukan seperti peruntukannya
maka perlu diadakan penelitian tentang gejala-gejala yang timbul. Oleh karena itu penulis ingin melakukan
penelitian yang lebih mendalam tentang
permasalah yang fenomenal dan aktual saat ini di pematangsiantar, dengan
judul penelitaian “Analisa Menurunnya
Motivasi Bealajar Siswa Di Kota Pematangisiantar”
Motivasi belajar sangatlah penting
untuk dapat menggerakkan kegiatan belajar.
Melalui kegiatan belajar maka
kita memperoleh manfaat seperti
tambahnya ilmu pengetahuan dan pengalaman baru, serta terjadinya perubahan
tingkahlaku . Oleh karena melalui
belajar diketahui memperoleh manfaat
maka Bangsa Indonesia
menyelenggarakan suatu pendidikan
nasional agar Bangsa Indonesia dapat
menjadi bangsa yang maju dan bangsa yang terkemuka. Bila motivasi belajar menurun berati intensitas usaha belajar menurun yang
berujung pada rendahnya hasil usaha
belajar seperti tidak adanya prestasi.
Sardiaman A.M (2007:85-86) mengatakan :
Seseorang melakukan suatu usaha
karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan
menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata
lain dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari oleh adanya motivasi,
maka seseorang yang belajar itu akan
dapat melahirkan prestasi yang baik.
Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya.
Dimyati dan Mudjono (2009:5) mengatakan :”
bila siswa belajar maka akan terjadi
perubahan mental pada diri
siswa” Mencermati pendapat ini maka pantaslah setiap orang tua
menginginkan anaknya belajar.
Oleh karena itu setiap orang tua
rela mengeluarkan banyak biaya untuk
menyekolahkan anaknya. Harapan orang
tua bila anaknya belajar maka semakin baiklah mental anaknya.
Tetapi
harus diingat bahwa motivasilah yang
menggerakkan belajar itu. Tanpa
motivasi kegiatan belajar itu
tidak dilakukan.
Mc.Donal dalam Sardiaman A.M (2007: 74 )
mengatakan: bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan
motivasi akan membawa beberapa perubahan energi dalam sistem”
neurophysiologikal “ yang ada pada organisme
manusia . Karena menyangkut perubahan energi manusia ( walaupun motivasi
itu muncul dari dalam diri
manusia ), penampakannya akan
menyangkut kegiatan fisik manusia.
Bila melihat fenomena
pendidikan yang terjadi dikota
Pematangsiantar seperti banyaknya siswa berada di warung-warung internet pada
saat kegiatan belajar mengajar disekolah sedang berlangsung, dan dikaitkan dengan teori –teori motivasi belajar maka dapat
diketahui betapa pentinganya
melakukan kajian yang
mendalam tentang fenomena itu.
Sebab bila fenomena itu tidak segera di atasi akan dapat mengakibatkan
semakin meningkatnya jumlah siswa yang
bolos sekolah. Dalam fenomena
ini adanya siswa yang bolos tersebut
adalah merupakan bukti motivasi belajar siswa yang menurun . Bila
motivasi belajar siswa di kota Pematangsiantar menurun maka perkembangan kota akan terhambat sebab
nantinya para siswa itulah yang akan meneruskan tongkat estafet pembangunan kota Pematangsiantar. Selain itu
membiarkan motivasi belajar siwa menurun berarti : membiarkan perkembangan mental
anak-anak kota Pematangsiantar pada arah yang tidak jelas, membiarkan mereka tidak turut serta berpartisipasi untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan , membiarkan mereka menjadi “virus” disekolah-sekolah
di kota Pematangsiantar, membiarkan mereka kehilangan masa depannya ,
membiarkan mereka menjadi korban kekejaman perkembangan teknologi.
1.2. Fokus Permasalah dan Pertanyaan Penelitian
Internet memang bukan hal yang baru lagi di kota Pematangsiantar. Banyak
orang kita temukan di warung-warung internet sedang asyiknya bermain internet. Pengunjungnya tidak terbatas pada golongan
orang tertentu saja, ada yang
masih berstatus masih duduk di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas
dan Maha Siswa , anak putus
sekolah dll.
Kehadiran
Internet membawa dampak positif maupun negatif.
Dalam penelitian ini yang akan dikedepankan adalah tentang menganalisa menurunnya
motivasi belajar siswa sebagai dampak negatif kehadiran internet. Bila di identifikasi beberapa fenomena sosial
yang tampak bahwa motivasi siswa menurun
segai dampak negatif kehadiran internet adalah seperti terdapat dibawah ini:
1. Sejumlah siswa ditemukan telah membolos dari sekolah dan
tempat-tempat privat les, para siswa
tersebut ditemukan di warung internet
2. Sejumlah siswa ditemukan masih berada
di warung internet sampai malam hari, tengah malam dan bahkan hingga pagi
harinya.
3. Sejumlah siswa lebih senang menghabiskan waktu dengan bermain game online
, mengakses jejaring sossial internet seperti Face Book, dan twiter, serta
situs-situs pornografi
Dalam penelitian ini penulis
memiliki sejumlah keterbatasan seperti
dana, waktu, tenaga, kemampuan
akademik sehingga tidak semua masalah
diteliti dan penelitian ini terbatas objek penelitian yaitu siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri yang ada di kota Pematangsiantar.
Adapun fokus permasalah dalam penelitian ini adalah
:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa
SMP Negeri di Kota Pematangsiantar.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar menjadikan warung-warung internet sebagai
sasaran tempat bermain .
3. Menganalisa
sejauh manakah menurunnya motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
Untuk lebih
operasional apa sebenarnya yang menjadi fokus permasalahan yang harus dijawab
dalam penelitian ini maka selanjutnya dirumuskanlah
pertanyaan penelitiannya sebagai berikut
:
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan menurunnya motivasi
belajar siswa SMP Negeri di Kota
Pematangsiantar.
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan
sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar
menjadikan warung-warung internet sebagai sasaran tempat bermain .
3. Sejauh manakah motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini adalah:
1. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan motivasi
belajar siswa SMP Negeri di Kota
Pematangsiantar menurun.
2. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan
sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar
menjadikan warung-warung internet sebagai sasaran tempat bermain .
3. menemukan Sejauh manakah motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
1.4 Kegunaan/Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
berguna/bermanfaat baik dari segi keilmuan/teoritis maupun dari segi praktis/fragmatis yaitu:
1. Dari segi keilmuan/teoritis hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan konstribusi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya
mengenai faktor-faktor yang menyebabkan
motivasi belajar siswa yang menurun, faktor-faktor yang menyebabkan siswa menjadikan warung
internet menjadi sasaran tempat bermain, serta sejauhmana motivasi belajar siswa menurun
akibat internet.
2. Dari
segi praktis/fragmatis hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan:
a. Kepada Pemerintah kota
Pematangsiantar beserta jajarannya sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil
langkah-langkah yang bersifat prefentif
bagaimana menyusun rencana penertiban dan pelayanan penggunaan akses internet
kepada siswa , sehingga internet tidak berdampak negatif terhadap motivasi
belajar siswa
b. Kepada orang tua siswa untuk bahan evaluasi
dalam mengawasi
dan
membina putra/putrinya sehingga motivasi belajar anak-anaknya tetap
terjaga walaupun teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat.
c. Disamping kedua manfaat praktis/fragmatis
diatas penelitian ini berguna
sebagai syarat mengikuti ujian thesis pada Program Pasca
Sarjana (S-2) program studi Ilmu Perencanaan wilayah dan
Kota di Universitas Simalungun Pematangsiantar
dalam rangka memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Magister Sains
(M.Si).
1.5 Defenisi Operasional Istilah
Dalam
tesis ini ada beberapa istilah yang
perlu dijelaskan agar setiap pembaca mendapat pemahaman yang sama
dari istilah-istilah yang digunakan, seperti :
1. Analisis
Menurut kamus
besar bahasa indonesia (Departemen Pendidikan Nasional 2005 :
43) analisa adalah :1.Penyelidikan terhadap
sesuatu peristiwa (karangan,perbuatan,dsb) untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya,dsb) 2.penjabaran sesudah dikaji sebaik
baiknya.
3.
Pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan
akan kebenarannya.
Menurut Azis,F (2009:9) analisis adalah:”Kajian atau
telaah terhadap sesuatu untuk mengetahui keadaan sebenarnya”.
Dalam penelitian ini defenisi operasional istialah analisis adalah mengkaji , menelaah dan menjabarkan suatu
persoalan untuk mengetahui keadaan sebenarnya.
2. Menurunnya Motivasi belajar
Kata menurunnya
berasal dari kata menurun.
Dalam bahasa indonesia
kata menurun berasal dari kata
dasar turun.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Departemen Pendidikan Nasioanal 2005: 1229 ) turun artinya 1.bergerak kearah
bawah; bergerak ketempat yang lebih
rendah dari semula .2. surut 3. menjadi kurang ( rendah, susut,sedikit, dsb) 4.menjadi lemah . menurun
artinya : 1. makin kedepan makin kebawah
2.pergi kebawah 3. berangsur-angsur turun(berkurang, surut).
Dalam tulisan ini defenisi
operasional menurunnya berarti
menjadi lemah, berangsur angsur
surut.
Kata motivasi berasal dari kata
‘motif” . Motif diartikan sebagai daya
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu,
sehingga seseorang mau dan ingin
melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka
maka akan berusaha untuk
meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. (Sardiaman A.M 2007
:73-75)
Dalam penelitian ini defenisi
operasional motivasi adalah adanya dorongan dari dalam diri siswa untuk melakukan kegiatan dan bila tidak suka maka orang tersebut mampu mengatasi
ketidaksukaannya itu.
Sekarang timbul pertanyaan, apakah
belajar itu sebenarnya? Samakah belajar
itu dengan latihan , dengan menghafal dengan
pengumpulan fakta, dan studi? Tentu saja
banyak pendapat yang mungkin satu
dengan yang lainnya berbeda. Misalnya ada yang berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan menghafal
sejumlah fakta-fakta. Guru merasa puas
jika siswa-siswa telah sanggup menghapal
sejumlah fakta. Pendapat lain mengatakan bahwa belajar adalah
sama dengan latihan, sehingga hasil belajar tampak dalam keterampilan tertentu.
(Slameto 2003 : 1)
Djamarah (2000:13) menyimpulkan tentang
defenisi belajar adalah serangkaian
kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkahlaku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut koqnitif, afektif , dan psykomotor.
Dalam penelitian ini defenisi operasional belajar adalah
kegiatan untuk memperoleh sejumlah pengetahuan baik melalui menghafal, membaca
buku buku yang berkaitan dengan pelajaran sekolah , mendengarkan informasi atau
penjelasan mengenai materi pelajaran
yang diberikan guru , berlatih / mengerjakan PR
yang yang diberikan guru untuk memperoleh kemampuan menguasai materi materi pelajaran yang
diberikan oleh guru di sekolah sehingga
terjadi perubahan mental, sikap dan perilaku
kearah yang lebih baik
Dimyati dan Mudjono (2009 : 239 ) mengatakan: motivasi
belajar merupakan kekuatan mental yang
mendorong terjadinya proses belajar.
Motivasi belajar pada diri siswa
dapat menjadi lemah . Lemahnya
motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. selanjutnay mutu hasil belajar akan menjadi rendah . oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu
diperkuat terus menerus . Agar siswa
memiliki motivasi belajar yang kuat , pada
tempatnya diciptakan suasana belajar
yang menggembirakan.
Dalam penelitian ini defenisi operasional motivasi belajar adalah adanya dorongan dari
dalam diri siswa untuk melakukan
kegiatan belajar dan bila mana siswa tidak suka belajar maka siswa
tersebut mampu mengatasi
ketidaksukaanya.
Jadi secara keseluruhan defenisi
operasioanal menurunnya motifasi belajar dalam tulisan ini adalah berangsur angsur surut atau melemahnya dorongan dalam diri siswa
untuk melakukan kegiatan belajar.
3. Siswa SMP negeri
Dalam
Tulisan ini yang dimaksud dengan siswa adalah semua murid baik laki laki
dan perempuan yang masih bersekolah (terdaftar
namanya )
pada
satuan pendidikan tingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP) dimana sekolah tersebut
berstatus negeri dan bukan swasta.
BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN
A. Pembahasan
Teori
1. Motivasi
Belajar dan masalahnya
Menganalisa tentang motivasi
belajar berarti menelaah, mengkaji dan menjabarkan tentang ada tidaknya
kekuatan atau dorongan dalam diri manusia itu, seberapa besar kekuatan atau
dorongan dalam diri manusia itu,dari mana sumbernya dorongan itu serta apa saja
faktor yang berpengaruh kepada seseorang
sehingga seseorang itu melakukan
suatu kegiatan yang namanya belajar. Bagi sebagian orang tidaklah mudah untuk mengarahkan dirinya untuk mau
belajar. Didalam dirinya tidak ditemukan
kemampuan atau energi untuk mengarahkan diri kepada kegiatan belajar. Orang tersebut merasa sangat sulit untuk mengabaikan atau
mengatasi berbagai hambatan atau gangguan
untuk melakukan kegiatan belajar.
Sementara diketahui bahwa begitu banyaknya terdapat hal yang bisa
mengganggu atau menghambat usaha belajar.
Agar dapat melakukan kegiatan
belajar maka didalam diri orang tersebut
harus ada dorongan untuk melakukan kegiatan belajar. Semakin besar dorongan tersebut maka semakin
intens (bergelora dan penuh semangat)
seseorang tersebut belajar.
Sebaliknya bila dorongan
itu kecil atau tidak ada maka
orang tersebut hanya sedikit sekali atau
malah tidak melakukan kegiatan belajar, atau disebut malas belajar.
Dorongan atau motivasi untuk
belajar itu ada yang berasal dari dalam
diri dan ada yang berasal dari luar
diri. Dorongan atau motivasi dari
dalam diri
disebut motivasi intrinsik.
Seseorang mau belajar atau melakukan
kegiatan belajar bukan karena dorongan dari luar. Sebagai contoh seseorang
yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh, ia sudah rajin membaca buku-buku. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan
atau ilmu dari buku-buku yang dibacanya,
bukan karena ingin mendapat
pujian atau yang lain -lain .
Berbeda dengan motivasi
ekstrinsik. Motivasi ini akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan belajar karena dipengaruhi oleh faktor perangsangan
dari luar. Misalnya kalau besok akan mengadapi ujian, maka ia
akan belajar hari ini atau malam ini, agar ia mendapat punten yang bagus dan
harapannya temannya atau kekasihnya akan memuji ia. Jadi ia belajar bukan
karena ingin mendapatkan pengetahuan, tetapi ia ingin mendapatkan nilai yang bagus, lalu dipuji oleh teman atau
kekasihnya.
Kedua bentuk motivasi ini sangat diperlukan untuk mengawal
agar kegiatan belajar setiap siswa tidak menurun. Kedua Bentuk motivasi ini baik intrinsik dan
ekstrinsik sama-sama penting.
Sardiaman
A.M ( 2007 : 91 ) mengatakan : Dalam kegiatan belajar-mengajar peran motivasi
baik intrinsik dan ekstinsik sangat
diperlukan . Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktifitas dan
inisiatif , dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Belajar
tidak pernah sepi dari diri seseorang yang memiliki motivasi intrinsik. Ia ingin selalu maju dalam belajar. Kesadarannya yang besar akan kebutuhan ilmu untuk masa kini dan masa depannnya membuat ia gemar belajar. Ia
akan mencari berbagai ilmu dari berbagai buku buku yang dibacanya. Bagi sesorang yang tidak memiliki motivasi
intrinsik sulit sekali baginya untuk belajar sendiri. Orang yang memilki motivasi intrinsik senang
melakukan kegiatan belajar sendiri.
Kegiatan belajar itu dilatar belakangi oleh pemikirannya yang positif bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna untuk masa
kini dan masa yang akan datang.
Namun
perlu disadari, sekalipun motivasi intrinsik yang tadinya telah ada dalam diri siswa
dapat saja menjadi berubah, menjadi
menurun atau melemah. Sebab tidak ada
yang permanen ,tetap dan kekal. Yang
tetap atau permanen atau yang kekal
adalah perubahan. Perubahan ini mungkin
saja terjadi dalam diri siswa
karena diri siswa juga berubah, atau perubahan itu terjadi mungkin saja karena berbagai komponen dalam
proses belajar mengajar ada yang tidak
menarik bagi siswa.
Sardiaman
A.M ( 2007:91) mengatakan: Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi
ekstrensik ini tidak baik dan tidak
penting . Dalam kaitan
belajar mengajar tetap penting
sebab kemungkinan besar keadaan
siswa itu dinamis , berubah ubah , dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa , sehinnga
diperlukan motivasi ekstrinsik.
Dalam
perubahan yang terjadi pada diri siswa
dapat membuat motivasi intrinsik pada siswa menurun sehingga motivasi belajar siswa menurun. Menurunnya
motivasi intirnsik itu dapat pula menurun pada diri siswa karena berbagai komponen dalam proses belajar –
mengajar itu ada yang kurang menarik
bagi siwa, sehingga menurunpulalah motivasi belajarnya.
Kala
mana telah terjadi perubahan dalam diri siswa yang membuat motivasi
intrinsiknya menurun maka disinilah diperlukan motivasi ekstrensik. Motivasi
ektrinsik menggerakkan siswa untuk belajar, namun bukan pada esensi belajarnya. Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa
didasari oleh motif diluar
esensi apa yang dipelajarinya. Dapat dicontohkan, ketika seorang ibu belajar
membaca maka motif belajar baginya bukanlah untuk mengetahui membaca,
tetapi diluar dari pada itu.
Motifnya misalnya supaya tetangga
memuji dia karena sudah tahu membaca.
Dalam
kegiatan belajar mengajar disekolah setiap guru selalu mendorong siswanya untuk
mau belajar. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru untuk
memotivasi siswanya agar siswanya mau
belajar. Memberi hadiah bagi para jura di sekolah ketika pembagian rapor , memuji siswa yang dapat menjawab PR dengan benar, menyapa siswa dengan ramah, membuat kegiatan
perlombaan, dll adalah merupakan usaha
agar siswa termotivasi belajar. Guru
yang berhasil memotivasi anak untuk
belajar akan tampak dari kegiatan siswa
belajar. Tetapi bila guru tidak berhasil memotivasi siswa
belajar maka kita akan menemukan siswa yang malas belajar. Kegiatan belajar siswa menjadi tidak kelihatan ada. Siswa menjauhi kegiatan membaca buku, menjauhi
pekerjaan mengerjakan PR, tidak mau
perduli ketika guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Tanda-tanda seperti
itu adalah merupakan konotasi menurunnya
motivasi belajar siswa.
Dalam
menggerakkan siswa belajar adakalanya motivasi ekstrinsik menjadi bersifat negatif
ataupun menjadi bersifat positip.
Kesalahan Guru dalam penggunaan motivasi ekstrinsik ini bukan justru
membuat siswa menjadi termotovasi belajar, tetapi yang terjadi adalah
sebaliknya. Motivasi belajar siswa
menjadi menurun. Siswa menjadi benci kepada guru tersebut dan tidak lagi
berminat kepada mata pelajaran yang
diampu guru tersebut.
Motivasi ekstrinsik yang bersifat
positip seperti pujian, hadiah,
piagam
penghargaan atau bentuk bentuk yang lain dapat
merangsang siswa untuk belajar.
Selain
itu respon terhadap perilaku siswa pun
dapat bersifat positip. Disamping
kegiatan belajarnya yang semakin intens
maka perilaku yang
menunjukkan siswa sebagi anak yang terdidik pun tampak dalam kehidupan
sehari-harinya.
Motivasi ekstrinsik yang bersifat
negatif seringakali tidak menunjang
proses interaksi belajar mengajar yang
tidak edukatif. Memberikan hukuman
kepada siswa yang tidak mengerjakan PR seperti diberlakukannya hukuman fisik,ejekan,
dan sindiran mungkin akan membuat siswa
menjadi perduli dan mau belajar.
Pekerjaan Rumah yang tadinya jarang /tidak pernah dikerjakan
, kini menjadi dikerjakan. Pemberian
hukuman itu memang menggerakkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Tetapi
pemberian hukuman itu memiliki efek pengirng seperti terjadinya kerenggangan
hubungan antara guru dengan siswa.
Siswa dapat saja menjadi benci kepaga guru dan tidak menyukai lagi
berbagai hal dari guru tersebut. Kondisi
seperti ini dapat menurunkan motivasi belajar siswa, atau melemahkan motivasi
belajar siswa.
Memuji sebagai salah satu bentuk motivasi ektrinsik
hendaklah dalam situasi yang proporsioanl.
Bila pujian itu tidak pada momen dan porsi yang tepat maka akan berubah
menjadi ejekan, sindiran . Maka kealpaan seperti ini hendaklah menjadi perhatian
setiap guru, Sebab dapat menurunkan motivasi belajar siswa.
Djamarah (2011:152) mengatakan :Baik motivasi ekstrinsik yang positif dan
motifasi ektrinsik yang negatif
sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diakui angka,
ijazah,pujian, hadiah dan sebagainya
berpengaruh positif dengan merangsang
anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan, celaan, hukuman yang menghina
sindiran kasar, dansebagainya
berpengaruh negatif dan
merenggangnya hubungan guru
dengan anak didik. Jadilah guru sebagai
orang yang dibenci oleh anak didik.
Efek pengiringnya, mata pelajaran yang dipegang guru itu tidak disukai
anak didik.
Djamarah (2011:152 – 156) mengatakan bahwa ada beberapa prinsip-prinsip motivasi
dalam belajar yaitu :1.Motivasi
Sebagai Dasar Penggerak Yang Mendorong
Aktivitas Belajar. 2. Motivasi intrinsik lebih utama dari pada
motivasi ekstrinsik. 3.
Motivasi pujian lebih baik dari pada
hukuman. 4.Motivasi Berhubungan erat
dengan kebutuhan dalam
belajar. 5. Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.
6. Motivasi melahirkan pretasi dalam belajar.
Ada satu hal yang menjadi
perahatian dalam keterangan Djamarah
mengenai prisip-prinsip motivasi dalam belajar. Beliau mengatakan bahwa ada
efek yang tidak diharapkan dari
pemberian motivasi ekstrinsik yaitu kecenderungan
ketergantungan anak didik terhadap sesuatu diluar dirinya. Anak juga
kurang percaya diri , bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. oleh karena
itulah motivasi intrinsik lebih utama dari motivasi ekstrinsik.
Pendapat Djamarah yang
memberi penjelasan bahwa anak
yang diberi motivasi ekstrinsik menjadi mudah terpengaruh. Menyetir pendapat ini dapat dikatakan
efek yang tidak diharapkan dari perbuatan memberi motivasi ekstrinsik kepada siswa adalah
membuat siswa menjadi mudah terpengaruh, dan bisa saja siswa mudah menurun
motivasi belajarnya karena dipengaruhi oleh sesuatu di lingkungan sekitarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari siswa
bergabung dengan berbagai latarbelakang mental siswa yang lain. Diantaranya ada yang bermental buruk.
Sesuai
dengan pendapat Djamarah, Mental buruk ini tentu saja mudah di serap oleh siswa yang mendapat
motivasi ekstrinsik. Bila
anak bertemu dengan orang yang malas
belajar, maka iapun menjadi malas
belajar. Jadi menurunnya motivasi
belajar siswa dapat terjadi sebagai bentuk nyata dari rapuhnya kondisi
psykologis siswa, yang diakibatkan oleh
pemberian motivasi ekstrinsik.
Memotivasi siswa seperti seperti
memuji (motivasi ekstrinsik) haruslah pada momen dan kondisi yang tepat. Seperti dijelaskan sebelumnya bila pada tid momen
yang tepat dapat mengandung makna ejekan dan
sindiran. Selain adanya makna
ejekan dan sindiran maka pujian pun dapat memicu terjadianya kecemburuan
dikalangan siswa dan selanjutnya
menurunkan motivasi belajar siswa.
Contohnya bila dalam proses belajar mengajar ada siswa yang selalu
mendapat pujian, maka siswa yang
lain mungkin cemburu. Mereka merasa telah dikesampingkan karena
telah terjadi pilih kasih. Mereka merasa
tidak diperhatikan, mereka merasakan
bahwa hanya orang tertentu saja yang baik . Akhirnya perasaan kecemburuan itu
telah memicu pada menurunnya motivasi
belajar siswa.
Djamarah
(2011:164) mengatakan : Banyak anak
didik yang iri terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapatkan
tujuan dan perhatian ekstra dari guru .
Mereka malas belajar karena
menganggap guru pilih kasih dalam dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap
negatif anak didik ini harus
diredam dengan menempatkan anak didik
secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai
individu, bukan kepada yang canti atau
yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap
guru. Tetapi merupakan
figur yang disenagi dan dikagumi.
Menurunnya motivasi belajar siswa akan selalu terkait dengan faktor-faktor diluar
dirinya dan faktor faktor dari dalam dirinya. Motivasi belajar siswa yang menurun berarti
siswa mengurangi atau mengabaikan perhatiannya
terhadap kegiatan belajar. Padahal kegiatan belajar itu pada intinya untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai.
Menghindari kegiatan belajar sebenarnya berpengaruh dalam perkembangan kepribadian . Analoginya adalah bila siswa tidak belajar maka ia akan tidak akan mendapatkan pengetahuan, ketramilan dan
tidak terjadi penanaman sikap/ mental.
Dimyati
dan Mudjiono (2009:239) mengatakan : “ akibat penerimaan, penolakan atau pengabaian kesempatan belajar tersebut
akan berpengaruh pada pekembangan
kepribadian”
2.
Beberapa Layanan Internet Dalam kaitannya dengan motivasi belajarsiswa
Banyak
manfaat yang bisa kita nikmati dalam
layanan internet. Manfaat yang dapat kita bisa kita dapatkan di internet misalnya , mencari hiburan di
internet, mencari berita dan informasi di internet, berbisnis di internet, mempublikasikan foto dan tulisan di internet,
berkomunikasi di internet, menyimpan
data di internet, dan berbagai gratisan pun
tersedia diinternet.
Disamping
adanya manfaat internet bagi kehidupan manusia maka internetpun diakui telah
membawa dampak negatif. Didalam
internet tersimpan berjuta bahkan bermilliar informasi yang dapat diakses oleh
siapa saja. Salah satu bentuk data yang
tersimpan didalam internet yang dikhawatirkan paling berdampak buruk bagi
remaja seperti siswa setingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama ) adalah
pornografi. Data atau informasi
pornografi ini tersimpan dalam bentuk yang berbeda. Ada yang berbentuk teks , gambar dan
ada pula yang gambar beserta
suara. Bentuk teks maksudnya
adalah cerita- cerita yang berbau sek,
gambar maksudnya adalah foto-
toto syuur dan mengedepankan seksualitas, serta gambar dan beserta suara maksudnya adalah vidio-vidieo porno.
Bila
mengetehaui alamat web dari jaringan
yang menyimpan informasi pornografi maka setiap orang dapat membaca, melihat atau
menontonnya. Bagi siswa yang berada dalam golongan umur remaja hal pornografi adalah sesuatu yang paling
menarik perhatiannya. Sebab rasa
ingintahu yang tersimapan dalam dirinya serta dorongan seksualitas yang mengarahkannya ketempat-tempat yang pas.
Warung-warung internet tampaknya menjadi tempat yang pas, sebab biasanya
pemilik warung internet tidak selalu
perduli dengan berbagai macam situs internet yang diakses oleh pengunjungnya.
Melalui HP (hand phon) sebenarnya dapat juga di akses situs-situs yang berbau porno grafi tersebut, tapi
berbagai alasan seperti biaya, dan
teknologi yang berbeda membuat pilihan
dijatuhkan untuk mengunjungi warung internet. Bagi yang memiliki internet yang tersedia
dirumahpun sebenarnya juga dapat
mengakses sistus situs porno tersebut.
Tapi alasan tertentu seperti
adanya orang tua, dan saudara yang memantau membuat pilihan untuk mengunjungi warung-warung internet.Tidak semua siswa
mampu mengatasi ketertarikannya terhadap hal yang berbau
seks. Hal ini tergantung pada kekuatan nilai moralitas dan nilai spritual
seseorang. Bila moralitas dan
spritualitasnya baik, maka orang itu tentu dapat menahan diri
atas hal-hal yang berbau pornografi.
Dengan ketertarikanya kepada ‘menu’ pornografi yang tersedia di
internet hal ini dapat melemahkan atau menurunkan motivasi belajar siswa. Dikatakan dapat melemahkan motivasi belajar
siswa karena siswa tersebut tidak dapat
mengalahkan atau mengabaikan ketertarikannya kepada situs pornografi , sehingga
akhirnya siswa bolos dan berada di warung-warung internet
pada saat kegiatan proses belajar mengajar
berlangsung disekolah.
Terkadang
,tanpa mengetahui alamat web
sistus-situs pornografipun layanan internet menyuguhkan pornografi. Ketika tidak ada niatpun untuk mencari situs porno grafi tetapi layanan menyuguhkan pornografi. Itulah slah satu kejahatan yang dapat kita
temukan pada layanan internet. Layanan
internet tidak bisa steril dari
pornografi. Jadi kejahatan pornografi
yang ada di internet itu merasuki para siswa yang sudah pernah
menyaksikannya. Keesokan harinya pun ada
kemungkinan ia teringat, lalu ia membolos dari sekolah. Sesudah jam pulang sekolah siswa masih
berada di warung internet, seharusnya ia akan pergi ladi ke tempat-tempat bimbingan belajar , tapi ia
tak dapat mengesampingkan “candunya”
internet. Demikian hingga seore, malam bahkan ada yang hingga pagi
harinya warung internet menjadi tempat
yang sangat dinikmatinya.
Djamarah
(2011:246) mengatakan : kebangkitan
perilaku seksualitas diatas disebabkan faktor-faktor luar diri remaja, seperti buku porno, filim cabul
dan gambar porno. Anak didik yang sudah
pernah melakukan perbuatan jahiliah
itu sulit untuk menerima pelajaran
disekolah , karena mereka cenderung
berkhayal tentang kenikmatan seks. keinginan untuk selalu berdampingan
dengan lawan jenis lebih besar
dari pada hasrat untuk belajar. Kerinduanseksual yang tak tersalurkan membuat mereka tidak dapat memusatkan
perhatian dalam belajar.
Selain
pornografi permainan game on-line turut menarik siswa yang tidak memiliki
motivasi belajar. Waktu demi waktu habis
dalam permainan di warung internet. Permainan game on-line pun mampu
mengalahkan motivasi belajarnya. Bagi siswa yang memiliki motivasi belajar yang
kuat game on-line yang tersedia di internet
tidak mengganggu pemikirannya dan ia terus saja belajar.
Layanan
yang lain yang tersedia di internet adalah Chatting. Melalui layanan ini kita dapat berkomunikasi
dengan orang lain melalui tulisan. Kita
tidak dapat melihat ekspresi lawan bicara kita demikian juga sebaliknya . Atau kita tidak menetahui siapa lawan bicara
kita. Namun demikian bagi sebagian
siswa ada saja yang maniak
Chatting. Rela mengabiskan waktu
berjam-jam di depan layar komputer.
Alam pemikirannya tertuju kepada pembicaraan yang mengabaikan
tugasnya sebagai pelajar. Sebagai seorang siswa tugasnya seharusnya adalah belajar. Tapi Maniak chatting telah merasuki jiwanya, dan mengalahkan motivasi
belajarnya.
Pandia
(2007 : 172-173) mengatakan bahwa ada bebrapa dampak negatif dari Chatting
yaitu : 1. Mengobrol tidak senonoh; Orang yang sedang chatting seringkali
terjerumus kedalam pembicaraan yang tidak senonoh seperti pornografi. 2.
membuat rematik dan otot
pegal; duduk didepan komputer dalam jangka waktu yang lama dapat
mengakibatkan penyakit rematik dan pegal-pegal pada otot punggung maupun jari
tangan. 3. maniak Chatting; Chatting menjadi sangat
menyenangkan apalagi bertemu
dengan orang yang tepat. 4.
Berhubungan dekat dengan orang yang tidak jelas; Tidaklah baik berhubungan dekat dengan orang
yang tidak jelas, sebab tidak semua
orang yang kita temui adalah orang yang
jujur.
Satu
lagi layanan internet sebagai layanan jejaring sosial adalah Facebook dan
tweter. Jejaring sosial ini pun cukup
‘laris’ di seluruh dunia. Melalui jaringan ini seseorang dapat menjalin
komunikasi dengan orang lain.
Melaui pesan teks yang kita kita kirim kita dapat saling bertukar
informasi atau
memberitahukan apa yang kita sudah
lakukan kepada orang lain di seluruh dunia.
Jejaring sosial ini pun punya
daya magnetis yang kuat. Banyak waktu yang
tersita di depan layar komputer atau HP karena
bermain facebook atau tweeter. Waktu yang seharusnya dapat
digunakan untuk kegiatan belajar seperti
membaca buku, mengerjakan PR dan tugas lain
habis di ‘telan’ facebook ataupun
tweeter.
Sofia
dan Prianto (2010:158) mengatakan : “sekarang didunia termasuk indonesia telah terserang “demam facebook”.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Dalam sebuah tulisan yang berjudul
Dibalik Menurunnya Motivasi Belajar Siswa yang ditulis oleh Hendriana yang berupa sebuah artikel
yang dimuat oleh koran Singgalang menyebutkan
Berkurangnya semangat belajar para siswa, pada akhirnya akan menyebabkan kurang
betahnya siswa untuk mengikuti proses belajar di sekolah. Sehingga ada sebagian
dari siswa yang lebih memilih untuk tidak hadir atau “cabut” di saat ada mata
pelajaran atau salah seorang guru yang tidak disukainya.
Tidak hanya sebatas faktor materi pelajaran dan cara
guru yang kurang menarik dalam menyampaikan materi pelajaran yang menyebabkan
berkurangnya semangat belajar para siswa. Lingkungan antarteman pun besar
pengaruhnya. Apa yang dikatakan guru tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran
meskipun guru itu disegani. Ajakan-ajakan dari teman itu lebih berpengaruh.
Tidak sedikit para siswa yang melakukan perbuatan asusila, seperti halnya
merokok, minuman keras, narkoba, hingga perbuatan mesum lainnya. Di televisi pun
hampir setiap tayangan-tayangan kriminal menyajikan perbuatan-perbuatan mesum,
dimulai dari rekaman melalui handpone hingga tersebar melalui internet. Semua
itu tidak lepas dari interaksi antar teman.
Begitu banyak faktor-faktor yang
menyebabkan berkurangnya semangat belajar para siswa dan perkembangan jiwa para
remaja. Akan tetapi bagaimanapun keluarga dan sekolah masih tetap merupakan
lingkungan primer dan sekunder artinya lingkungan pertama dan kedua yang
berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian dalam dunia anak dan remaja
(siswa). Lingkungan masyarakat bisa begitu kuat berpengaruh pada umumnya
disebabkan karena lingkungan primer dan sekunderlah yang sudah menurunkan kadar
pengaruhnya. Oleh karena itu, untuk dapat mengurangi sebanyak mungkin pengaruh
yang negatif, maka lingkungan orang tua dan pendidik di sekolahlah yang harus
meningkatkan kembali fungsi mereka sebagai pengendali lingkungan primer dan
sekunder. Hendriana, koran Singgalang, Faktor dibalik menurunnya motivasi
belajar siswa, diakses tanggal 1 juni 2012
Purbo
mengatakan dalam sebuah
Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 bertajuk "Peran TI dalam
Membangun Pendidikan Berkarakter" yang dihadiri 40-an peneliti TI dan
puluhan mahasiswa STIKOM Surabaya. Internet
juga mengajarkan keburukan yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya.
Bahkan, situs porno di dunia saat ini mencapai 10 juta situs dengan satu miliar
halaman. Purbo, AntaraNews.com, Peran TI dalam Membangun Pendidikan
Berkarakter, diakses 1 Juni 2012. < http://mindmapclubindonesia.blogspot.com/2011/10/onno-purbo-internet-ajarkan-karakter.html>
Dalam
sebuah koran Metro Siantar Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa hasil penelitian di 12 kota besar di Indonesia termasuk Medan ;
97 % siswa SMP pernah membuka dan
melihat serta menonton film porno.
92% sudah pernah melakukan oral
seks. 61% sudah pernah melakukan zinah, dan 21,2% sudah pernah melakukan aborsi. Hasil penelitian itu dikemukakan oleh Tifatul
Sembiring dalam sebuah acara “Depkominfo
Goes to Mall” bersama PT Eksel Axiata
Tbk, sebuah road show keseluruh indonesia
dalam rangka mendorong penggunaan internet sehat bagi seluruh pelajar
dan mahasiswa indonesia. Metro Siantar, diakses tanggal 1 juni
2012. <http://issuu.com/metrosiantar/docs/selasa_27_marer_2012?mode=window&pageNumber=1>
Kepala
Dinas Kominfo Ir.Zulkifli Sitepu mengaku khawatir terhadap penyalahgunaan
tekhonologi komunikasi seperti warung internet oleh kalangan pelajar. Dalam rajia yang dilakukan fihaknya ditemukan
siswa SD dan SMP yang bermain internet di saat jam-jam pelajaran. Oleh karena itu Ia mengajak sekolah-sekolah
turut mengawasi penggunaan internet oleh para pelajar terutama pada jam jam
sekolah . Kemajuan teknologi internet telah menjadi bisnis saat ini. Sementara
pantauan Analisa di lapangan anak sekolah bermain internet saat jam pelajaran
khususnya di Jalan Sunggal. Kondisi ini ternyata tidak mendapat perhatian
pengeloa warnet. Selain itu, anak-anak tersebut ternyata tidak memanfaatkan
warnet sebagai media mencari ilmu tapi lebih untuk bermain game online. Koran
Analisa,
Diskominfo Minta Dinas Pendidikan Ajak Sekolah Awasi Warnet; diakses tanggal 1
jumi 2012 http://www.analisadaily.com/news/read/2012/03/31/43373/diskominfo_minta_dinas_pendidikan_ajak_sekolah_awasi_warnet/#.T8kTZGUc1Y1
Suyatno
(2011 :9-11) dalam penelitian di SMP/ SMA diwilayah kabupten bogor mengatakan: sebanyak 99 siswa (61,11% dari
jumlah responden) menikmati pornografi di warnet. Padahal secara global siswa (93,83 %) mengetahui
haramnya pornografi .Penelitian mengungkapkan bahwa siwa
mendapatkan materi pornografi cukup
beragam, Seperti dari teman, dari HP, dari warnet dan membeli. Sumber mereka
mendapatkan materi pornografi yang
lebih dominan adalah melalui teman dan melalui internet .Dan dari data
yang diperoleh melalui angket
menunjukkan bahwa pornografi
membuat kecanduan. Pernyataan kecanduan ini didukung oleh data angket yang
mengatakan bahwa 15,43 % siswa ingin
menikamti lagi pornografi. Dalam
penelitian yang dilakukan, dengan menggunakan analisa regresi diperoleh hasil bahwa pornografi dapat
menurunkan motivasi belajar siswa namun tidak signifikan. Penelitian juga mengungkapkan bahwa pornografi mempengaruhi kedisiplinan siswa . Hasil regresi
miniab dimana diperoleh hasil bahwa 95 %
pornografi mempengaruhi
kedisiplinan secara signifikan . Jurnal
pendidikan dompet duafa edisi I/2011 : Pengaruh Pornografi Terhadap Perilaku Belajar
Siswa (Studi Kasus : Sekolah Menengah X) diakses 1 juni 2012 ; <http://purwoudiutomo.com/wp-content/uploads/2011/09/
Pengaruh-Pornografi-terhadap-Perilaku-Belajar Siswa.pdf>
c. Rangkuman
Kajian Pustaka
1. Sardiaman A.M ( 2007 : 91 )
mengatakan : Dalam kegiatan belajar- mengajar
peran motivasi baik intrinsik dan ekstinsik
sangat diperlukan . Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan
aktifitas dan inisiatif , dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam
melaksanakan kegiatan belajar.
2. Sardiaman
A.M ( 2007:91) mengatakan: Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi
ekstrensik ini tidak baik dan
tidak penting . Dalam kaitan
belajar mengajar tetap penting
sebab kemungkinan besar keadaan
siswa itu dinamis , berubah ubah , dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa , sehinnga
diperlukan motivasi ekstrinsik.
3. Djamarah (2011:152) mengatakan :Baik
motivasi ekstrinsik yang positif dan motifasi ektrinsik yang negatif sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku
anak didik. Diakui angka, ijazah,pujian, hadiah
dan sebagainya berpengaruh positif
dengan merangsang anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan,
celaan, hukuman yang menghina sindiran kasar, dansebagainya berpengaruh negatif dan merenggangnya
hubungan guru dengan anak
didik. Jadilah guru sebagai orang yang dibenci oleh anak didik. Efek pengiringnya, mata pelajaran yang
dipegang guru itu tidak disukai anak didik.
4. Djamarah (2011:152 – 156) Beliau mengatakan bahwa ada
efek yang tidak diharapkan dari
pemberian motivasi ekstrinsik yaitu kecenderungan
ketergantungan anak didik terhadap sesuatu diluar dirinya. Anak juga
kurang percaya diri , bermental pengharapan dan mudah terpengaruh
5. Djamarah (2011:164) mengatakan : Banyak anak didik yang iri
terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapatkan tujuan dan perhatian ekstra dari guru .
Mereka malas belajar karena
menganggap guru pilih kasih dalam dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap
negatif anak didik ini harus
diredam dengan menempatkan anak didik
secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai
individu, bukan kepada yang canti atau
yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap
guru. Tetapi merupakan
figur yang disenagi dan dikagumi
6. Dimyati dan Mudjiono (2009:239)
mengatakan : “ akibat penerimaan, penolakan
atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan berpengaruh pada pekembangan kepribadian”
7. Djamarah (2011:246) mengatakan :
kebangkitan perilaku seksualitas diatas
disebabkan faktor-faktor luar
diri remaja, seperti buku porno, filim cabul dan gambar porno. Anak didik yang sudah pernah melakukan perbuatan jahiliah itu sulit untuk menerima pelajaran disekolah , karena mereka cenderung berkhayal tentang kenikmatan seks. keinginan untuk selalu berdampingan
dengan lawan jenis lebih besar
dari pada hasrat untuk belajar. Kerinduanseksual yang tak tersalurkan membuat mereka tidak dapat memusatkan
perhatian dalam belajar.
8. Pandia (2007 : 172-173) mengatakan bahwa ada bebrapa dampak negatif dari Chatting
yaitu : 1. Mengobrol tidak senonoh; Orang yang sedang chatting seringkali
terjerumus kedalam pembicaraan yang tidak senonoh seperti pornografi. 2.
membuat rematik dan otot
pegal; duduk didepan
komputer dalam jangka waktu yang lama
dapat mengakibatkan penyakit rematik dan pegal-pegal pada otot punggung maupun
jari tangan. 3. maniak Chatting; Chatting menjadi sangat
menyenangkan apalagi bertemu
dengan orang yang tepat. 4.
Berhubungan dekat dengan orang yang tidak jelas; Tidaklah baik berhubungan dekat dengan orang
yang tidak jelas, sebab tidak semua
orang yang kita temui adalah orang yang
jujur.
9. Sofia dan Prianto (2010:158)
mengatakan : “sekarang didunia termasuk
indonesia telah terserang “demam facebook”.
10. Purbo
mengatakan dalam sebuah
Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 Internet juga mengajarkan keburukan
yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya
11. Menkominfo Tifatul
Sembiring mengatakan bahwa hasil
penelitian di kota besar di Indonesia termasuk Medan ; 97
% siswa SMP pernah membuka dan melihat
serta menonton film porno. 92% sudah pernah melakukan oral seks. 61% sudah
pernah melakukan zinah, dan 21,2% sudah pernah melakukan aborsi.
12. Kepala
Dinas Kominfo Ir.Zulkifli Sitepu mengaku khawatir terhadap penyalahgunaan
tekhonologi komunikasi seperti warung internet oleh kalangan pelajar. Dalam rajia yang dilakukan fihaknya ditemukan
siswa SD dan SMP yang bermain internet di saat jam-jam pelajaran.
13. Suyatno (2011 :9-11) dalam penelitian di SMP/ SMA diwilayah kabupten bogor mengatakan sebanyak 99 siswa (61,11% dari jumlah
responden) menikmati pornografi di warnet. pornografi membuat kecanduan. bahwa pornografi dapat menurunkan motivasi
belajar siswa namun tidak signifikan.
Penelitian juga mengungkapkan
bahwa pornografi mempengaruhi
kedisiplinan siswa . Hasil regresi miniab
diperoleh hasil bahwa 95 %
pornografi mempengaruhi
kedisiplinan secara signifikan .
T
E S I S
ANALISIS
MENURUNNYA MOTIVASI BELAJAR
SISWA DI KOTA PEMATANGSIANTAR
Oleh
RAJUTA
SEMBIRING
NPM
: 111351019

PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
SIMALUNGUN
PEMATANGSIANTAR
2012
T
E S I S
ANALISIS MENURUNNYA
MOTIVASI BELAJAR SISWA DI KOTA PEMATANGSIANTAR
Oleh
RAJUTA
SEMBIRING
NPM
: 111351019
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk
Memperoleh Gelar Magister Sains (M.Si)
dalam
Program Studi Ilmu Perencanaan
Wilayah dan Kota
Universitas
Simalungun

PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
SIMALUNGUN
PEMATANGSIANTAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Salah satu fenomena pendidikan yang
dapat kita temui di kota Pematangsiantar adalah banyaknya siswa yang dapat kita
temui diwarung warung internet baik
ketika proses belajar mengajar di
sekolah sedang berlangsung maupun diluar jam sekolah. Siswa bermain dengan
bebasnya, dan pelajaran pun ditinggalkan . Tampaknya warung internet menjadi
tempat yang nyaman bagi para siswa, karena disana mereka dapat melakukan apa yang mereka mau.
Ketersediaan internet dikota
Pematangsiantar di satu sisi telah meresahkan orang tua, dan fihak sekolah
serta Pemerintah Kota Pematangsiantar.
Tidak sedikit orang tua yang cemas karena anak yang mereka cintai belum
juga tiba dirumah, yang seharusnya menurut jadwal-jadawal belajar anak bahwa
anak itu sudah tiba dirumah. Sehingga
orang tua harus direpotkan oleh ulah sianak.
Orang tua harus mencari putra/putri mereka ketempat-tempat yang belum
pasti. Para guru disekolah harus
mempertanyakan ketidak hadiran mereka kalamana mereka cabut atau tidak hadir disekolah karena
alasan-alasan yang mencurigakan.
Pemerintah Kota Pematangsiantar mendapat tambahan tugas untuk merazia
para siswa yang berkeliaran dipusat-pusat keramaian pada jam-jam belajar, dan
tidak sedikit siswa yang terjaring razia kasih sayang di temukan di
warung-warung internet.
Sebagai contoh, dalam suatu razia
Kasih Sayang yang dilakukan oleh
Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam
hal ini Polsek Siantar Utara Kota pada hari Jumat , 24 February 2012 yang beru
lalu, sebanyak 13 (tiga belas)
siswa terjaring di warung internet dan
bilyard dalam suatu operasi rajia kasih sayang yang dilakukan oleh Polsek
Siantar Utara Kota. Mereka berada di warung internet dan bilyard karena bolos sekolah. Operasi kasih
sayang ketika itu dilakukan sekitar pukul 10.00 dipimpin Kapolsek Siantar
Utara AKP M Nababan. TRIBUNnews, Bolos Saat Sekolah 13
Pelajar di ciduk Polisi , diakses tanggal
17 Mei 2012 <http://www.tribunnews.com/2012/02/24/bolos-saat-sekolah-13-pelajar-diciduk-polisi>
Pada berita lain Ekspos NEWS
menuliskan bahwa Razia Kasih Sayang yang dilakukan Selasa ,21 Februari 2012
terjaring 48 (empat puluh delapan siswa), dan uniknya satu diantaranya masih duduk dikelas IV SD dari salah satu SD Negeri di Naga Huta. Ia mengaku
sejak berangkat dari rumah pukul
6.30 langsung menuju warnet dan bermain
poin blank. Menurut Tim Polres Pematangsiantar
yang melakukan Rajia Kasih sayang tersebut, mereka membagi tim menjadi 2 (dua),
satu tim berhasil menjaring 36 (tiga puluh enam) siswa yang terdiri dari 25
(dua puluh lima) siswa SLTA dan 11 (sebelas) siswa SLTP yang keseluruhannya
laki-laki. Sementara tim yang satunya lagi berhasil menjaring 8 (delapan) siswa SLTA, yang terdiri dari 7
(tujuh) laki-laki dan 1 (satu) perempuan.
Selanjutnya menjaring lagi 4 (empat ) siswa lagi yang terdiri dari 3
(tiga) siswa SMP dan 1 (satu ) siswa SD.
Seluruh siwa ditemukan di warnet, bilyard dan Pasar horas pada
jam belajar disekolah sedang berlangsung. Kasat Pembinaan Masyarakat
(Binmas) Polres Pematangsiantar AKP
T.Sitepu mengatakan Operasi kasih sayang
ini merupakan kegiatan yang rutin
dilakukan
untuk
menekan jumlah siswa yang bolos. Eksposnews,
Siswa SD di Siantar Terjaring Razia Kasih Sayang, di akses tanggal 17 Mei
2012 <http://eksposnews.com/view/14/32397/Siswa-SD-di-Siantar-Terjaring-Razia-Kasih-Sayang.html>
Dalam
sebuah berita Metro Siantar menuliskan
Rajia Kasih Sayang yang dilakukan Rabu, 29 Februari 2012 oleh Tim Patroli
sekolah Dinas Pendidikan Pematangsiantar berhasil menjaring 35 (tiga pulu lima)
orang pelajar di Siantar. Ketua tim
Patroli Sekolah Juniar Sinaga mengatakan, penangkapan itu dilakukan berdasarkan
informasi dari masyarakat. Katanya, siswa tertangkap sekira pukul 11.00 WIB
dari lokasi warnet di Jalan Diponegoro, Siantar Plaza Jalan Merdeka dan Pasar
Horas. Metro Siantar, Rajia kasih
sayang, 35 siswa terjaring. Diakses 17 Mei 2012. <http://www.metrosiantar.com/index.php/Metro-Siantar/razia-kasih-sayang-35-siswa-terjaring.html>
Razia yang dilakukan oleh Polres
Kota Pematangsiantar dan Tim Patroli
Sekolah Dinas Pendidkan Pematangsiantar sebenarnya adalah penggalan dari
keseluruhan kegiatan yang terjadi di warung-warung Internet di
kota Pematangsiantar . Apa yang mereka lakukan masih terbatas pada siang
hari. Rajia Kasih Sayang bila dilakukan
di malam hari maka akan menjaring lebih
banyak pelajar di kota Pematangsiantar.
Sebab menurut pengamatan Penulis banyak pelajar di Kota Pematangsiantar
masih berada di warung-warung internet hingga larut malam bahkan hingga pagi
hari.
Dari beberapa informasi diatas
memberikan keterangan kepada kita bahwa telah terjadi suatu fenomena baru kehidupan pelajar dikota Pematangsiantar. Seharusnya sebagai
seorang pelajar hendaklah menunjukkan sikap dan perilaku pelajar. Ketika
jam-jam sekolah sedang berlangsung maka pelajar patutnya berada disekolah, dan
bila malam telah tiba pelajar patutnya berda dirumah, mengerjakan PR yang diberikan oleh Guru atau
mempersiapkan keperluan untuk bersekolah besok harinya.
Internet tampaknya telah mengusik
motivasi belajar sebagian siswa di kota
Pematangsiantar. Para pelajar yang
terusik motivasi belajarnya karena
sesuatu hal menunjukkan bahwa sebenarnya telah terjadi penurunan
motivasi belajar sebagai dampak dari internet.
Secara teori bila terjadi penurunan motivasi belajar , maka akan segera
tampak pada hasil belajar yang semakin buruk.
Bila hasil belajar dibiarkan semakin buruk oleh karena terusiknya motivasi
belajar siswa karena dampak negatif internet maka sudah
seharusnyalah dikerahkan berbagai upaya
untuk memulihkan hal itu.
Perlu diketahui bahwa
motivasi belajar adalah satu hal yang
perlu ditumbuhkan, di pelihara , dijaga dan dikembangkan dalam rangka meraih hasil belajar yang
optimal. Seseorang dapat gagal karena
tidak memliki motivasi belajar walaupun dia memiliki inteligensia yang cukup.
Sardiaman A.M (2007:84-85) mengatakan: Begitu juga untuk belajar sangat
diperlukan adanya motivasi . Motivation
is an essensial condition of learning.
Hasil belajar akan menjadi optimal , kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan
makin berhasil pula pelajaran itu.Jadi motivasi akan senantiasa menentukan
intensitas usaha belajar bagi para siswa.
Dalam perkembangan terkini
dinegara kita masalah pendidikan menjadi isu penting. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang
pro-pendidikan dapat kita telusuri dari berbagai perundang-undangan yang ada. UUD NRI Tahun 1945 telah mengamanatkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN
serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaran pendidikan nasional.
Porsi anggaran pendidikan
minimal 20 % dari APBN serta dari APBD adalah satu keputusan konstitusional yang menunjukkan kesadaran bangsa Indonesia akan perlunya memajukan Pendidikan
Nasional untuk mengejar berbagai
ketertinggalan Bangsa Indonesia . Terlebih lagi adalah suatu cita-cita untuk
mensejajarkan Bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa terkemuka di dunia. Keputusan yang menetapkan anggaran pendidikan
minimal 20% dari APBN serta dari APBD adalah suatu refleksi kesadaran Bangsa
Indonesia akan perlunya anak anak Indonesia
bersekolah dan harapan tidak akan adalagi anak-anak Indonesia yang putus
sekolah karena ketiadaan biaya. Namun
andaikan ada siswa di Pematangsiantar harus putus sekolah karena dampak negatif
Internet maka dapat dikatakan anak anak
Indonesia yang bersekolah di Pematangsiantar
tidak merespon amanat UUD NRI tahun 1945. Andaikan juga anak anak Indonesia yang
bersekolah di Pematangsiantar telah menurun motivasi belajarnya karena dampak
negatif internet maka kiranya kajian-kajian melalui penelitian perlu
diadakan untuk mengetahui seluk beluk
yang terjadi didalamnya, sehingga dapat
diterapkan langkah langkah yang tepat
untuk pencerahannya.
Sejatinya tidak boleh ada
anak-anak dikota Pematangsiantar menjadi menurun motivasi belajarnya karena ketersediaan layanan
internet. Anak-anak kota ini diharapkan
memilki motivasi belajar yang
tinggi untuk terus belajar agar hasil belajarnya dapat optimal,
sehingga dikemudian hari dapat
meneruskan tongkat estafet perjuangan membangun kota Pematangsiantar. Ketersediaan
internet di kota Pematangsiantar
tidaklah bermaksud menurunkan Motivasi
belajar siswa di Kota Pematangsiantar.
Sejatinya layanan internet di
Kota Pematangsiantar adalah wujud dari perkembangan Teknologi informasi
komputer yang memudahkan setiap penggunanya dalam mengakses berbagai informasi yang berguna bagi dirinya. Namun bila terjadi bukan seperti peruntukannya
maka perlu diadakan penelitian tentang gejala-gejala yang timbul. Oleh karena itu penulis ingin melakukan
penelitian yang lebih mendalam tentang
permasalah yang fenomenal dan aktual saat ini di pematangsiantar, dengan
judul penelitaian “Analisa Menurunnya
Motivasi Bealajar Siswa Di Kota Pematangisiantar”
Motivasi belajar sangatlah penting
untuk dapat menggerakkan kegiatan belajar.
Melalui kegiatan belajar maka
kita memperoleh manfaat seperti
tambahnya ilmu pengetahuan dan pengalaman baru, serta terjadinya perubahan
tingkahlaku . Oleh karena melalui
belajar diketahui memperoleh manfaat
maka Bangsa Indonesia
menyelenggarakan suatu pendidikan
nasional agar Bangsa Indonesia dapat
menjadi bangsa yang maju dan bangsa yang terkemuka. Bila motivasi belajar menurun berati intensitas usaha belajar menurun yang
berujung pada rendahnya hasil usaha
belajar seperti tidak adanya prestasi.
Sardiaman A.M (2007:85-86) mengatakan :
Seseorang melakukan suatu usaha
karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan
menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata
lain dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari oleh adanya motivasi,
maka seseorang yang belajar itu akan
dapat melahirkan prestasi yang baik.
Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya.
Dimyati dan Mudjono (2009:5) mengatakan :”
bila siswa belajar maka akan terjadi
perubahan mental pada diri
siswa” Mencermati pendapat ini maka pantaslah setiap orang tua
menginginkan anaknya belajar.
Oleh karena itu setiap orang tua
rela mengeluarkan banyak biaya untuk
menyekolahkan anaknya. Harapan orang
tua bila anaknya belajar maka semakin baiklah mental anaknya.
Tetapi
harus diingat bahwa motivasilah yang
menggerakkan belajar itu. Tanpa
motivasi kegiatan belajar itu
tidak dilakukan.
Mc.Donal dalam Sardiaman A.M (2007: 74 )
mengatakan: bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan
motivasi akan membawa beberapa perubahan energi dalam sistem”
neurophysiologikal “ yang ada pada organisme
manusia . Karena menyangkut perubahan energi manusia ( walaupun motivasi
itu muncul dari dalam diri
manusia ), penampakannya akan
menyangkut kegiatan fisik manusia.
Bila melihat fenomena
pendidikan yang terjadi dikota
Pematangsiantar seperti banyaknya siswa berada di warung-warung internet pada
saat kegiatan belajar mengajar disekolah sedang berlangsung, dan dikaitkan dengan teori –teori motivasi belajar maka dapat
diketahui betapa pentinganya
melakukan kajian yang
mendalam tentang fenomena itu.
Sebab bila fenomena itu tidak segera di atasi akan dapat mengakibatkan
semakin meningkatnya jumlah siswa yang
bolos sekolah. Dalam fenomena
ini adanya siswa yang bolos tersebut
adalah merupakan bukti motivasi belajar siswa yang menurun . Bila
motivasi belajar siswa di kota Pematangsiantar menurun maka perkembangan kota akan terhambat sebab
nantinya para siswa itulah yang akan meneruskan tongkat estafet pembangunan kota Pematangsiantar. Selain itu
membiarkan motivasi belajar siwa menurun berarti : membiarkan perkembangan mental
anak-anak kota Pematangsiantar pada arah yang tidak jelas, membiarkan mereka tidak turut serta berpartisipasi untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan , membiarkan mereka menjadi “virus” disekolah-sekolah
di kota Pematangsiantar, membiarkan mereka kehilangan masa depannya ,
membiarkan mereka menjadi korban kekejaman perkembangan teknologi.
1.2. Fokus Permasalah dan Pertanyaan Penelitian
Internet memang bukan hal yang baru lagi di kota Pematangsiantar. Banyak
orang kita temukan di warung-warung internet sedang asyiknya bermain internet. Pengunjungnya tidak terbatas pada golongan
orang tertentu saja, ada yang
masih berstatus masih duduk di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas
dan Maha Siswa , anak putus
sekolah dll.
Kehadiran
Internet membawa dampak positif maupun negatif.
Dalam penelitian ini yang akan dikedepankan adalah tentang menganalisa menurunnya
motivasi belajar siswa sebagai dampak negatif kehadiran internet. Bila di identifikasi beberapa fenomena sosial
yang tampak bahwa motivasi siswa menurun
segai dampak negatif kehadiran internet adalah seperti terdapat dibawah ini:
1. Sejumlah siswa ditemukan telah membolos dari sekolah dan
tempat-tempat privat les, para siswa
tersebut ditemukan di warung internet
2. Sejumlah siswa ditemukan masih berada
di warung internet sampai malam hari, tengah malam dan bahkan hingga pagi
harinya.
3. Sejumlah siswa lebih senang menghabiskan waktu dengan bermain game online
, mengakses jejaring sossial internet seperti Face Book, dan twiter, serta
situs-situs pornografi
Dalam penelitian ini penulis
memiliki sejumlah keterbatasan seperti
dana, waktu, tenaga, kemampuan
akademik sehingga tidak semua masalah
diteliti dan penelitian ini terbatas objek penelitian yaitu siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri yang ada di kota Pematangsiantar.
Adapun fokus permasalah dalam penelitian ini adalah
:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa
SMP Negeri di Kota Pematangsiantar.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar menjadikan warung-warung internet sebagai
sasaran tempat bermain .
3. Menganalisa
sejauh manakah menurunnya motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
Untuk lebih
operasional apa sebenarnya yang menjadi fokus permasalahan yang harus dijawab
dalam penelitian ini maka selanjutnya dirumuskanlah
pertanyaan penelitiannya sebagai berikut
:
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan menurunnya motivasi
belajar siswa SMP Negeri di Kota
Pematangsiantar.
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan
sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar
menjadikan warung-warung internet sebagai sasaran tempat bermain .
3. Sejauh manakah motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini adalah:
1. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan motivasi
belajar siswa SMP Negeri di Kota
Pematangsiantar menurun.
2. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan
sejumlah siswa SMP Negeri Kota Pematangsiantar
menjadikan warung-warung internet sebagai sasaran tempat bermain .
3. menemukan Sejauh manakah motivisai belajar siswa SMP Negeri di kota
Pematangsiantar menurun akibat internet?
1.4 Kegunaan/Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
berguna/bermanfaat baik dari segi keilmuan/teoritis maupun dari segi praktis/fragmatis yaitu:
1. Dari segi keilmuan/teoritis hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan konstribusi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya
mengenai faktor-faktor yang menyebabkan
motivasi belajar siswa yang menurun, faktor-faktor yang menyebabkan siswa menjadikan warung
internet menjadi sasaran tempat bermain, serta sejauhmana motivasi belajar siswa menurun
akibat internet.
2. Dari
segi praktis/fragmatis hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan:
a. Kepada Pemerintah kota
Pematangsiantar beserta jajarannya sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil
langkah-langkah yang bersifat prefentif
bagaimana menyusun rencana penertiban dan pelayanan penggunaan akses internet
kepada siswa , sehingga internet tidak berdampak negatif terhadap motivasi
belajar siswa
b. Kepada orang tua siswa untuk bahan evaluasi
dalam mengawasi
dan
membina putra/putrinya sehingga motivasi belajar anak-anaknya tetap
terjaga walaupun teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat.
c. Disamping kedua manfaat praktis/fragmatis
diatas penelitian ini berguna
sebagai syarat mengikuti ujian thesis pada Program Pasca
Sarjana (S-2) program studi Ilmu Perencanaan wilayah dan
Kota di Universitas Simalungun Pematangsiantar
dalam rangka memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Magister Sains
(M.Si).
1.5 Defenisi Operasional Istilah
Dalam
tesis ini ada beberapa istilah yang
perlu dijelaskan agar setiap pembaca mendapat pemahaman yang sama
dari istilah-istilah yang digunakan, seperti :
1. Analisis
Menurut kamus
besar bahasa indonesia (Departemen Pendidikan Nasional 2005 :
43) analisa adalah :1.Penyelidikan terhadap
sesuatu peristiwa (karangan,perbuatan,dsb) untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya,dsb) 2.penjabaran sesudah dikaji sebaik
baiknya.
3.
Pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan
akan kebenarannya.
Menurut Azis,F (2009:9) analisis adalah:”Kajian atau
telaah terhadap sesuatu untuk mengetahui keadaan sebenarnya”.
Dalam penelitian ini defenisi operasional istialah analisis adalah mengkaji , menelaah dan menjabarkan suatu
persoalan untuk mengetahui keadaan sebenarnya.
2. Menurunnya Motivasi belajar
Kata menurunnya
berasal dari kata menurun.
Dalam bahasa indonesia
kata menurun berasal dari kata
dasar turun.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Departemen Pendidikan Nasioanal 2005: 1229 ) turun artinya 1.bergerak kearah
bawah; bergerak ketempat yang lebih
rendah dari semula .2. surut 3. menjadi kurang ( rendah, susut,sedikit, dsb) 4.menjadi lemah . menurun
artinya : 1. makin kedepan makin kebawah
2.pergi kebawah 3. berangsur-angsur turun(berkurang, surut).
Dalam tulisan ini defenisi
operasional menurunnya berarti
menjadi lemah, berangsur angsur
surut.
Kata motivasi berasal dari kata
‘motif” . Motif diartikan sebagai daya
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu,
sehingga seseorang mau dan ingin
melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka
maka akan berusaha untuk
meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. (Sardiaman A.M 2007
:73-75)
Dalam penelitian ini defenisi
operasional motivasi adalah adanya dorongan dari dalam diri siswa untuk melakukan kegiatan dan bila tidak suka maka orang tersebut mampu mengatasi
ketidaksukaannya itu.
Sekarang timbul pertanyaan, apakah
belajar itu sebenarnya? Samakah belajar
itu dengan latihan , dengan menghafal dengan
pengumpulan fakta, dan studi? Tentu saja
banyak pendapat yang mungkin satu
dengan yang lainnya berbeda. Misalnya ada yang berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan menghafal
sejumlah fakta-fakta. Guru merasa puas
jika siswa-siswa telah sanggup menghapal
sejumlah fakta. Pendapat lain mengatakan bahwa belajar adalah
sama dengan latihan, sehingga hasil belajar tampak dalam keterampilan tertentu.
(Slameto 2003 : 1)
Djamarah (2000:13) menyimpulkan tentang
defenisi belajar adalah serangkaian
kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkahlaku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut koqnitif, afektif , dan psykomotor.
Dalam penelitian ini defenisi operasional belajar adalah
kegiatan untuk memperoleh sejumlah pengetahuan baik melalui menghafal, membaca
buku buku yang berkaitan dengan pelajaran sekolah , mendengarkan informasi atau
penjelasan mengenai materi pelajaran
yang diberikan guru , berlatih / mengerjakan PR
yang yang diberikan guru untuk memperoleh kemampuan menguasai materi materi pelajaran yang
diberikan oleh guru di sekolah sehingga
terjadi perubahan mental, sikap dan perilaku
kearah yang lebih baik
Dimyati dan Mudjono (2009 : 239 ) mengatakan: motivasi
belajar merupakan kekuatan mental yang
mendorong terjadinya proses belajar.
Motivasi belajar pada diri siswa
dapat menjadi lemah . Lemahnya
motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. selanjutnay mutu hasil belajar akan menjadi rendah . oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu
diperkuat terus menerus . Agar siswa
memiliki motivasi belajar yang kuat , pada
tempatnya diciptakan suasana belajar
yang menggembirakan.
Dalam penelitian ini defenisi operasional motivasi belajar adalah adanya dorongan dari
dalam diri siswa untuk melakukan
kegiatan belajar dan bila mana siswa tidak suka belajar maka siswa
tersebut mampu mengatasi
ketidaksukaanya.
Jadi secara keseluruhan defenisi
operasioanal menurunnya motifasi belajar dalam tulisan ini adalah berangsur angsur surut atau melemahnya dorongan dalam diri siswa
untuk melakukan kegiatan belajar.
3. Siswa SMP negeri
Dalam
Tulisan ini yang dimaksud dengan siswa adalah semua murid baik laki laki
dan perempuan yang masih bersekolah (terdaftar
namanya )
pada
satuan pendidikan tingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP) dimana sekolah tersebut
berstatus negeri dan bukan swasta.
BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN
A. Pembahasan
Teori
1. Motivasi
Belajar dan masalahnya
Menganalisa tentang motivasi
belajar berarti menelaah, mengkaji dan menjabarkan tentang ada tidaknya
kekuatan atau dorongan dalam diri manusia itu, seberapa besar kekuatan atau
dorongan dalam diri manusia itu,dari mana sumbernya dorongan itu serta apa saja
faktor yang berpengaruh kepada seseorang
sehingga seseorang itu melakukan
suatu kegiatan yang namanya belajar. Bagi sebagian orang tidaklah mudah untuk mengarahkan dirinya untuk mau
belajar. Didalam dirinya tidak ditemukan
kemampuan atau energi untuk mengarahkan diri kepada kegiatan belajar. Orang tersebut merasa sangat sulit untuk mengabaikan atau
mengatasi berbagai hambatan atau gangguan
untuk melakukan kegiatan belajar.
Sementara diketahui bahwa begitu banyaknya terdapat hal yang bisa
mengganggu atau menghambat usaha belajar.
Agar dapat melakukan kegiatan
belajar maka didalam diri orang tersebut
harus ada dorongan untuk melakukan kegiatan belajar. Semakin besar dorongan tersebut maka semakin
intens (bergelora dan penuh semangat)
seseorang tersebut belajar.
Sebaliknya bila dorongan
itu kecil atau tidak ada maka
orang tersebut hanya sedikit sekali atau
malah tidak melakukan kegiatan belajar, atau disebut malas belajar.
Dorongan atau motivasi untuk
belajar itu ada yang berasal dari dalam
diri dan ada yang berasal dari luar
diri. Dorongan atau motivasi dari
dalam diri
disebut motivasi intrinsik.
Seseorang mau belajar atau melakukan
kegiatan belajar bukan karena dorongan dari luar. Sebagai contoh seseorang
yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh, ia sudah rajin membaca buku-buku. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan
atau ilmu dari buku-buku yang dibacanya,
bukan karena ingin mendapat
pujian atau yang lain -lain .
Berbeda dengan motivasi
ekstrinsik. Motivasi ini akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan belajar karena dipengaruhi oleh faktor perangsangan
dari luar. Misalnya kalau besok akan mengadapi ujian, maka ia
akan belajar hari ini atau malam ini, agar ia mendapat punten yang bagus dan
harapannya temannya atau kekasihnya akan memuji ia. Jadi ia belajar bukan
karena ingin mendapatkan pengetahuan, tetapi ia ingin mendapatkan nilai yang bagus, lalu dipuji oleh teman atau
kekasihnya.
Kedua bentuk motivasi ini sangat diperlukan untuk mengawal
agar kegiatan belajar setiap siswa tidak menurun. Kedua Bentuk motivasi ini baik intrinsik dan
ekstrinsik sama-sama penting.
Sardiaman
A.M ( 2007 : 91 ) mengatakan : Dalam kegiatan belajar-mengajar peran motivasi
baik intrinsik dan ekstinsik sangat
diperlukan . Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktifitas dan
inisiatif , dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Belajar
tidak pernah sepi dari diri seseorang yang memiliki motivasi intrinsik. Ia ingin selalu maju dalam belajar. Kesadarannya yang besar akan kebutuhan ilmu untuk masa kini dan masa depannnya membuat ia gemar belajar. Ia
akan mencari berbagai ilmu dari berbagai buku buku yang dibacanya. Bagi sesorang yang tidak memiliki motivasi
intrinsik sulit sekali baginya untuk belajar sendiri. Orang yang memilki motivasi intrinsik senang
melakukan kegiatan belajar sendiri.
Kegiatan belajar itu dilatar belakangi oleh pemikirannya yang positif bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna untuk masa
kini dan masa yang akan datang.
Namun
perlu disadari, sekalipun motivasi intrinsik yang tadinya telah ada dalam diri siswa
dapat saja menjadi berubah, menjadi
menurun atau melemah. Sebab tidak ada
yang permanen ,tetap dan kekal. Yang
tetap atau permanen atau yang kekal
adalah perubahan. Perubahan ini mungkin
saja terjadi dalam diri siswa
karena diri siswa juga berubah, atau perubahan itu terjadi mungkin saja karena berbagai komponen dalam
proses belajar mengajar ada yang tidak
menarik bagi siswa.
Sardiaman
A.M ( 2007:91) mengatakan: Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi
ekstrensik ini tidak baik dan tidak
penting . Dalam kaitan
belajar mengajar tetap penting
sebab kemungkinan besar keadaan
siswa itu dinamis , berubah ubah , dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa , sehinnga
diperlukan motivasi ekstrinsik.
Dalam
perubahan yang terjadi pada diri siswa
dapat membuat motivasi intrinsik pada siswa menurun sehingga motivasi belajar siswa menurun. Menurunnya
motivasi intirnsik itu dapat pula menurun pada diri siswa karena berbagai komponen dalam proses belajar –
mengajar itu ada yang kurang menarik
bagi siwa, sehingga menurunpulalah motivasi belajarnya.
Kala
mana telah terjadi perubahan dalam diri siswa yang membuat motivasi
intrinsiknya menurun maka disinilah diperlukan motivasi ekstrensik. Motivasi
ektrinsik menggerakkan siswa untuk belajar, namun bukan pada esensi belajarnya. Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa
didasari oleh motif diluar
esensi apa yang dipelajarinya. Dapat dicontohkan, ketika seorang ibu belajar
membaca maka motif belajar baginya bukanlah untuk mengetahui membaca,
tetapi diluar dari pada itu.
Motifnya misalnya supaya tetangga
memuji dia karena sudah tahu membaca.
Dalam
kegiatan belajar mengajar disekolah setiap guru selalu mendorong siswanya untuk
mau belajar. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru untuk
memotivasi siswanya agar siswanya mau
belajar. Memberi hadiah bagi para jura di sekolah ketika pembagian rapor , memuji siswa yang dapat menjawab PR dengan benar, menyapa siswa dengan ramah, membuat kegiatan
perlombaan, dll adalah merupakan usaha
agar siswa termotivasi belajar. Guru
yang berhasil memotivasi anak untuk
belajar akan tampak dari kegiatan siswa
belajar. Tetapi bila guru tidak berhasil memotivasi siswa
belajar maka kita akan menemukan siswa yang malas belajar. Kegiatan belajar siswa menjadi tidak kelihatan ada. Siswa menjauhi kegiatan membaca buku, menjauhi
pekerjaan mengerjakan PR, tidak mau
perduli ketika guru menjelaskan tentang materi pelajaran. Tanda-tanda seperti
itu adalah merupakan konotasi menurunnya
motivasi belajar siswa.
Dalam
menggerakkan siswa belajar adakalanya motivasi ekstrinsik menjadi bersifat negatif
ataupun menjadi bersifat positip.
Kesalahan Guru dalam penggunaan motivasi ekstrinsik ini bukan justru
membuat siswa menjadi termotovasi belajar, tetapi yang terjadi adalah
sebaliknya. Motivasi belajar siswa
menjadi menurun. Siswa menjadi benci kepada guru tersebut dan tidak lagi
berminat kepada mata pelajaran yang
diampu guru tersebut.
Motivasi ekstrinsik yang bersifat
positip seperti pujian, hadiah,
piagam
penghargaan atau bentuk bentuk yang lain dapat
merangsang siswa untuk belajar.
Selain
itu respon terhadap perilaku siswa pun
dapat bersifat positip. Disamping
kegiatan belajarnya yang semakin intens
maka perilaku yang
menunjukkan siswa sebagi anak yang terdidik pun tampak dalam kehidupan
sehari-harinya.
Motivasi ekstrinsik yang bersifat
negatif seringakali tidak menunjang
proses interaksi belajar mengajar yang
tidak edukatif. Memberikan hukuman
kepada siswa yang tidak mengerjakan PR seperti diberlakukannya hukuman fisik,ejekan,
dan sindiran mungkin akan membuat siswa
menjadi perduli dan mau belajar.
Pekerjaan Rumah yang tadinya jarang /tidak pernah dikerjakan
, kini menjadi dikerjakan. Pemberian
hukuman itu memang menggerakkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Tetapi
pemberian hukuman itu memiliki efek pengirng seperti terjadinya kerenggangan
hubungan antara guru dengan siswa.
Siswa dapat saja menjadi benci kepaga guru dan tidak menyukai lagi
berbagai hal dari guru tersebut. Kondisi
seperti ini dapat menurunkan motivasi belajar siswa, atau melemahkan motivasi
belajar siswa.
Memuji sebagai salah satu bentuk motivasi ektrinsik
hendaklah dalam situasi yang proporsioanl.
Bila pujian itu tidak pada momen dan porsi yang tepat maka akan berubah
menjadi ejekan, sindiran . Maka kealpaan seperti ini hendaklah menjadi perhatian
setiap guru, Sebab dapat menurunkan motivasi belajar siswa.
Djamarah (2011:152) mengatakan :Baik motivasi ekstrinsik yang positif dan
motifasi ektrinsik yang negatif
sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diakui angka,
ijazah,pujian, hadiah dan sebagainya
berpengaruh positif dengan merangsang
anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan, celaan, hukuman yang menghina
sindiran kasar, dansebagainya
berpengaruh negatif dan
merenggangnya hubungan guru
dengan anak didik. Jadilah guru sebagai
orang yang dibenci oleh anak didik.
Efek pengiringnya, mata pelajaran yang dipegang guru itu tidak disukai
anak didik.
Djamarah (2011:152 – 156) mengatakan bahwa ada beberapa prinsip-prinsip motivasi
dalam belajar yaitu :1.Motivasi
Sebagai Dasar Penggerak Yang Mendorong
Aktivitas Belajar. 2. Motivasi intrinsik lebih utama dari pada
motivasi ekstrinsik. 3.
Motivasi pujian lebih baik dari pada
hukuman. 4.Motivasi Berhubungan erat
dengan kebutuhan dalam
belajar. 5. Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.
6. Motivasi melahirkan pretasi dalam belajar.
Ada satu hal yang menjadi
perahatian dalam keterangan Djamarah
mengenai prisip-prinsip motivasi dalam belajar. Beliau mengatakan bahwa ada
efek yang tidak diharapkan dari
pemberian motivasi ekstrinsik yaitu kecenderungan
ketergantungan anak didik terhadap sesuatu diluar dirinya. Anak juga
kurang percaya diri , bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. oleh karena
itulah motivasi intrinsik lebih utama dari motivasi ekstrinsik.
Pendapat Djamarah yang
memberi penjelasan bahwa anak
yang diberi motivasi ekstrinsik menjadi mudah terpengaruh. Menyetir pendapat ini dapat dikatakan
efek yang tidak diharapkan dari perbuatan memberi motivasi ekstrinsik kepada siswa adalah
membuat siswa menjadi mudah terpengaruh, dan bisa saja siswa mudah menurun
motivasi belajarnya karena dipengaruhi oleh sesuatu di lingkungan sekitarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari siswa
bergabung dengan berbagai latarbelakang mental siswa yang lain. Diantaranya ada yang bermental buruk.
Sesuai
dengan pendapat Djamarah, Mental buruk ini tentu saja mudah di serap oleh siswa yang mendapat
motivasi ekstrinsik. Bila
anak bertemu dengan orang yang malas
belajar, maka iapun menjadi malas
belajar. Jadi menurunnya motivasi
belajar siswa dapat terjadi sebagai bentuk nyata dari rapuhnya kondisi
psykologis siswa, yang diakibatkan oleh
pemberian motivasi ekstrinsik.
Memotivasi siswa seperti seperti
memuji (motivasi ekstrinsik) haruslah pada momen dan kondisi yang tepat. Seperti dijelaskan sebelumnya bila pada tid momen
yang tepat dapat mengandung makna ejekan dan
sindiran. Selain adanya makna
ejekan dan sindiran maka pujian pun dapat memicu terjadianya kecemburuan
dikalangan siswa dan selanjutnya
menurunkan motivasi belajar siswa.
Contohnya bila dalam proses belajar mengajar ada siswa yang selalu
mendapat pujian, maka siswa yang
lain mungkin cemburu. Mereka merasa telah dikesampingkan karena
telah terjadi pilih kasih. Mereka merasa
tidak diperhatikan, mereka merasakan
bahwa hanya orang tertentu saja yang baik . Akhirnya perasaan kecemburuan itu
telah memicu pada menurunnya motivasi
belajar siswa.
Djamarah
(2011:164) mengatakan : Banyak anak
didik yang iri terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapatkan
tujuan dan perhatian ekstra dari guru .
Mereka malas belajar karena
menganggap guru pilih kasih dalam dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap
negatif anak didik ini harus
diredam dengan menempatkan anak didik
secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai
individu, bukan kepada yang canti atau
yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap
guru. Tetapi merupakan
figur yang disenagi dan dikagumi.
Menurunnya motivasi belajar siswa akan selalu terkait dengan faktor-faktor diluar
dirinya dan faktor faktor dari dalam dirinya. Motivasi belajar siswa yang menurun berarti
siswa mengurangi atau mengabaikan perhatiannya
terhadap kegiatan belajar. Padahal kegiatan belajar itu pada intinya untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai.
Menghindari kegiatan belajar sebenarnya berpengaruh dalam perkembangan kepribadian . Analoginya adalah bila siswa tidak belajar maka ia akan tidak akan mendapatkan pengetahuan, ketramilan dan
tidak terjadi penanaman sikap/ mental.
Dimyati
dan Mudjiono (2009:239) mengatakan : “ akibat penerimaan, penolakan atau pengabaian kesempatan belajar tersebut
akan berpengaruh pada pekembangan
kepribadian”
2.
Beberapa Layanan Internet Dalam kaitannya dengan motivasi belajarsiswa
Banyak
manfaat yang bisa kita nikmati dalam
layanan internet. Manfaat yang dapat kita bisa kita dapatkan di internet misalnya , mencari hiburan di
internet, mencari berita dan informasi di internet, berbisnis di internet, mempublikasikan foto dan tulisan di internet,
berkomunikasi di internet, menyimpan
data di internet, dan berbagai gratisan pun
tersedia diinternet.
Disamping
adanya manfaat internet bagi kehidupan manusia maka internetpun diakui telah
membawa dampak negatif. Didalam
internet tersimpan berjuta bahkan bermilliar informasi yang dapat diakses oleh
siapa saja. Salah satu bentuk data yang
tersimpan didalam internet yang dikhawatirkan paling berdampak buruk bagi
remaja seperti siswa setingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama ) adalah
pornografi. Data atau informasi
pornografi ini tersimpan dalam bentuk yang berbeda. Ada yang berbentuk teks , gambar dan
ada pula yang gambar beserta
suara. Bentuk teks maksudnya
adalah cerita- cerita yang berbau sek,
gambar maksudnya adalah foto-
toto syuur dan mengedepankan seksualitas, serta gambar dan beserta suara maksudnya adalah vidio-vidieo porno.
Bila
mengetehaui alamat web dari jaringan
yang menyimpan informasi pornografi maka setiap orang dapat membaca, melihat atau
menontonnya. Bagi siswa yang berada dalam golongan umur remaja hal pornografi adalah sesuatu yang paling
menarik perhatiannya. Sebab rasa
ingintahu yang tersimapan dalam dirinya serta dorongan seksualitas yang mengarahkannya ketempat-tempat yang pas.
Warung-warung internet tampaknya menjadi tempat yang pas, sebab biasanya
pemilik warung internet tidak selalu
perduli dengan berbagai macam situs internet yang diakses oleh pengunjungnya.
Melalui HP (hand phon) sebenarnya dapat juga di akses situs-situs yang berbau porno grafi tersebut, tapi
berbagai alasan seperti biaya, dan
teknologi yang berbeda membuat pilihan
dijatuhkan untuk mengunjungi warung internet. Bagi yang memiliki internet yang tersedia
dirumahpun sebenarnya juga dapat
mengakses sistus situs porno tersebut.
Tapi alasan tertentu seperti
adanya orang tua, dan saudara yang memantau membuat pilihan untuk mengunjungi warung-warung internet.Tidak semua siswa
mampu mengatasi ketertarikannya terhadap hal yang berbau
seks. Hal ini tergantung pada kekuatan nilai moralitas dan nilai spritual
seseorang. Bila moralitas dan
spritualitasnya baik, maka orang itu tentu dapat menahan diri
atas hal-hal yang berbau pornografi.
Dengan ketertarikanya kepada ‘menu’ pornografi yang tersedia di
internet hal ini dapat melemahkan atau menurunkan motivasi belajar siswa. Dikatakan dapat melemahkan motivasi belajar
siswa karena siswa tersebut tidak dapat
mengalahkan atau mengabaikan ketertarikannya kepada situs pornografi , sehingga
akhirnya siswa bolos dan berada di warung-warung internet
pada saat kegiatan proses belajar mengajar
berlangsung disekolah.
Terkadang
,tanpa mengetahui alamat web
sistus-situs pornografipun layanan internet menyuguhkan pornografi. Ketika tidak ada niatpun untuk mencari situs porno grafi tetapi layanan menyuguhkan pornografi. Itulah slah satu kejahatan yang dapat kita
temukan pada layanan internet. Layanan
internet tidak bisa steril dari
pornografi. Jadi kejahatan pornografi
yang ada di internet itu merasuki para siswa yang sudah pernah
menyaksikannya. Keesokan harinya pun ada
kemungkinan ia teringat, lalu ia membolos dari sekolah. Sesudah jam pulang sekolah siswa masih
berada di warung internet, seharusnya ia akan pergi ladi ke tempat-tempat bimbingan belajar , tapi ia
tak dapat mengesampingkan “candunya”
internet. Demikian hingga seore, malam bahkan ada yang hingga pagi
harinya warung internet menjadi tempat
yang sangat dinikmatinya.
Djamarah
(2011:246) mengatakan : kebangkitan
perilaku seksualitas diatas disebabkan faktor-faktor luar diri remaja, seperti buku porno, filim cabul
dan gambar porno. Anak didik yang sudah
pernah melakukan perbuatan jahiliah
itu sulit untuk menerima pelajaran
disekolah , karena mereka cenderung
berkhayal tentang kenikmatan seks. keinginan untuk selalu berdampingan
dengan lawan jenis lebih besar
dari pada hasrat untuk belajar. Kerinduanseksual yang tak tersalurkan membuat mereka tidak dapat memusatkan
perhatian dalam belajar.
Selain
pornografi permainan game on-line turut menarik siswa yang tidak memiliki
motivasi belajar. Waktu demi waktu habis
dalam permainan di warung internet. Permainan game on-line pun mampu
mengalahkan motivasi belajarnya. Bagi siswa yang memiliki motivasi belajar yang
kuat game on-line yang tersedia di internet
tidak mengganggu pemikirannya dan ia terus saja belajar.
Layanan
yang lain yang tersedia di internet adalah Chatting. Melalui layanan ini kita dapat berkomunikasi
dengan orang lain melalui tulisan. Kita
tidak dapat melihat ekspresi lawan bicara kita demikian juga sebaliknya . Atau kita tidak menetahui siapa lawan bicara
kita. Namun demikian bagi sebagian
siswa ada saja yang maniak
Chatting. Rela mengabiskan waktu
berjam-jam di depan layar komputer.
Alam pemikirannya tertuju kepada pembicaraan yang mengabaikan
tugasnya sebagai pelajar. Sebagai seorang siswa tugasnya seharusnya adalah belajar. Tapi Maniak chatting telah merasuki jiwanya, dan mengalahkan motivasi
belajarnya.
Pandia
(2007 : 172-173) mengatakan bahwa ada bebrapa dampak negatif dari Chatting
yaitu : 1. Mengobrol tidak senonoh; Orang yang sedang chatting seringkali
terjerumus kedalam pembicaraan yang tidak senonoh seperti pornografi. 2.
membuat rematik dan otot
pegal; duduk didepan komputer dalam jangka waktu yang lama dapat
mengakibatkan penyakit rematik dan pegal-pegal pada otot punggung maupun jari
tangan. 3. maniak Chatting; Chatting menjadi sangat
menyenangkan apalagi bertemu
dengan orang yang tepat. 4.
Berhubungan dekat dengan orang yang tidak jelas; Tidaklah baik berhubungan dekat dengan orang
yang tidak jelas, sebab tidak semua
orang yang kita temui adalah orang yang
jujur.
Satu
lagi layanan internet sebagai layanan jejaring sosial adalah Facebook dan
tweter. Jejaring sosial ini pun cukup
‘laris’ di seluruh dunia. Melalui jaringan ini seseorang dapat menjalin
komunikasi dengan orang lain.
Melaui pesan teks yang kita kita kirim kita dapat saling bertukar
informasi atau
memberitahukan apa yang kita sudah
lakukan kepada orang lain di seluruh dunia.
Jejaring sosial ini pun punya
daya magnetis yang kuat. Banyak waktu yang
tersita di depan layar komputer atau HP karena
bermain facebook atau tweeter. Waktu yang seharusnya dapat
digunakan untuk kegiatan belajar seperti
membaca buku, mengerjakan PR dan tugas lain
habis di ‘telan’ facebook ataupun
tweeter.
Sofia
dan Prianto (2010:158) mengatakan : “sekarang didunia termasuk indonesia telah terserang “demam facebook”.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Dalam sebuah tulisan yang berjudul
Dibalik Menurunnya Motivasi Belajar Siswa yang ditulis oleh Hendriana yang berupa sebuah artikel
yang dimuat oleh koran Singgalang menyebutkan
Berkurangnya semangat belajar para siswa, pada akhirnya akan menyebabkan kurang
betahnya siswa untuk mengikuti proses belajar di sekolah. Sehingga ada sebagian
dari siswa yang lebih memilih untuk tidak hadir atau “cabut” di saat ada mata
pelajaran atau salah seorang guru yang tidak disukainya.
Tidak hanya sebatas faktor materi pelajaran dan cara
guru yang kurang menarik dalam menyampaikan materi pelajaran yang menyebabkan
berkurangnya semangat belajar para siswa. Lingkungan antarteman pun besar
pengaruhnya. Apa yang dikatakan guru tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran
meskipun guru itu disegani. Ajakan-ajakan dari teman itu lebih berpengaruh.
Tidak sedikit para siswa yang melakukan perbuatan asusila, seperti halnya
merokok, minuman keras, narkoba, hingga perbuatan mesum lainnya. Di televisi pun
hampir setiap tayangan-tayangan kriminal menyajikan perbuatan-perbuatan mesum,
dimulai dari rekaman melalui handpone hingga tersebar melalui internet. Semua
itu tidak lepas dari interaksi antar teman.
Begitu banyak faktor-faktor yang
menyebabkan berkurangnya semangat belajar para siswa dan perkembangan jiwa para
remaja. Akan tetapi bagaimanapun keluarga dan sekolah masih tetap merupakan
lingkungan primer dan sekunder artinya lingkungan pertama dan kedua yang
berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian dalam dunia anak dan remaja
(siswa). Lingkungan masyarakat bisa begitu kuat berpengaruh pada umumnya
disebabkan karena lingkungan primer dan sekunderlah yang sudah menurunkan kadar
pengaruhnya. Oleh karena itu, untuk dapat mengurangi sebanyak mungkin pengaruh
yang negatif, maka lingkungan orang tua dan pendidik di sekolahlah yang harus
meningkatkan kembali fungsi mereka sebagai pengendali lingkungan primer dan
sekunder. Hendriana, koran Singgalang, Faktor dibalik menurunnya motivasi
belajar siswa, diakses tanggal 1 juni 2012
Purbo
mengatakan dalam sebuah
Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 bertajuk "Peran TI dalam
Membangun Pendidikan Berkarakter" yang dihadiri 40-an peneliti TI dan
puluhan mahasiswa STIKOM Surabaya. Internet
juga mengajarkan keburukan yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya.
Bahkan, situs porno di dunia saat ini mencapai 10 juta situs dengan satu miliar
halaman. Purbo, AntaraNews.com, Peran TI dalam Membangun Pendidikan
Berkarakter, diakses 1 Juni 2012. < http://mindmapclubindonesia.blogspot.com/2011/10/onno-purbo-internet-ajarkan-karakter.html>
Dalam
sebuah koran Metro Siantar Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan bahwa hasil penelitian di 12 kota besar di Indonesia termasuk Medan ;
97 % siswa SMP pernah membuka dan
melihat serta menonton film porno.
92% sudah pernah melakukan oral
seks. 61% sudah pernah melakukan zinah, dan 21,2% sudah pernah melakukan aborsi. Hasil penelitian itu dikemukakan oleh Tifatul
Sembiring dalam sebuah acara “Depkominfo
Goes to Mall” bersama PT Eksel Axiata
Tbk, sebuah road show keseluruh indonesia
dalam rangka mendorong penggunaan internet sehat bagi seluruh pelajar
dan mahasiswa indonesia. Metro Siantar, diakses tanggal 1 juni
2012. <http://issuu.com/metrosiantar/docs/selasa_27_marer_2012?mode=window&pageNumber=1>
Kepala
Dinas Kominfo Ir.Zulkifli Sitepu mengaku khawatir terhadap penyalahgunaan
tekhonologi komunikasi seperti warung internet oleh kalangan pelajar. Dalam rajia yang dilakukan fihaknya ditemukan
siswa SD dan SMP yang bermain internet di saat jam-jam pelajaran. Oleh karena itu Ia mengajak sekolah-sekolah
turut mengawasi penggunaan internet oleh para pelajar terutama pada jam jam
sekolah . Kemajuan teknologi internet telah menjadi bisnis saat ini. Sementara
pantauan Analisa di lapangan anak sekolah bermain internet saat jam pelajaran
khususnya di Jalan Sunggal. Kondisi ini ternyata tidak mendapat perhatian
pengeloa warnet. Selain itu, anak-anak tersebut ternyata tidak memanfaatkan
warnet sebagai media mencari ilmu tapi lebih untuk bermain game online. Koran
Analisa,
Diskominfo Minta Dinas Pendidikan Ajak Sekolah Awasi Warnet; diakses tanggal 1
jumi 2012 http://www.analisadaily.com/news/read/2012/03/31/43373/diskominfo_minta_dinas_pendidikan_ajak_sekolah_awasi_warnet/#.T8kTZGUc1Y1
Suyatno
(2011 :9-11) dalam penelitian di SMP/ SMA diwilayah kabupten bogor mengatakan: sebanyak 99 siswa (61,11% dari
jumlah responden) menikmati pornografi di warnet. Padahal secara global siswa (93,83 %) mengetahui
haramnya pornografi .Penelitian mengungkapkan bahwa siwa
mendapatkan materi pornografi cukup
beragam, Seperti dari teman, dari HP, dari warnet dan membeli. Sumber mereka
mendapatkan materi pornografi yang
lebih dominan adalah melalui teman dan melalui internet .Dan dari data
yang diperoleh melalui angket
menunjukkan bahwa pornografi
membuat kecanduan. Pernyataan kecanduan ini didukung oleh data angket yang
mengatakan bahwa 15,43 % siswa ingin
menikamti lagi pornografi. Dalam
penelitian yang dilakukan, dengan menggunakan analisa regresi diperoleh hasil bahwa pornografi dapat
menurunkan motivasi belajar siswa namun tidak signifikan. Penelitian juga mengungkapkan bahwa pornografi mempengaruhi kedisiplinan siswa . Hasil regresi
miniab dimana diperoleh hasil bahwa 95 %
pornografi mempengaruhi
kedisiplinan secara signifikan . Jurnal
pendidikan dompet duafa edisi I/2011 : Pengaruh Pornografi Terhadap Perilaku Belajar
Siswa (Studi Kasus : Sekolah Menengah X) diakses 1 juni 2012 ; <http://purwoudiutomo.com/wp-content/uploads/2011/09/
Pengaruh-Pornografi-terhadap-Perilaku-Belajar Siswa.pdf>
c. Rangkuman
Kajian Pustaka
1. Sardiaman A.M ( 2007 : 91 )
mengatakan : Dalam kegiatan belajar- mengajar
peran motivasi baik intrinsik dan ekstinsik
sangat diperlukan . Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan
aktifitas dan inisiatif , dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam
melaksanakan kegiatan belajar.
2. Sardiaman
A.M ( 2007:91) mengatakan: Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi
ekstrensik ini tidak baik dan
tidak penting . Dalam kaitan
belajar mengajar tetap penting
sebab kemungkinan besar keadaan
siswa itu dinamis , berubah ubah , dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa , sehinnga
diperlukan motivasi ekstrinsik.
3. Djamarah (2011:152) mengatakan :Baik
motivasi ekstrinsik yang positif dan motifasi ektrinsik yang negatif sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku
anak didik. Diakui angka, ijazah,pujian, hadiah
dan sebagainya berpengaruh positif
dengan merangsang anak didik untuk giat belajar. Sedangkan ejekan,
celaan, hukuman yang menghina sindiran kasar, dansebagainya berpengaruh negatif dan merenggangnya
hubungan guru dengan anak
didik. Jadilah guru sebagai orang yang dibenci oleh anak didik. Efek pengiringnya, mata pelajaran yang
dipegang guru itu tidak disukai anak didik.
4. Djamarah (2011:152 – 156) Beliau mengatakan bahwa ada
efek yang tidak diharapkan dari
pemberian motivasi ekstrinsik yaitu kecenderungan
ketergantungan anak didik terhadap sesuatu diluar dirinya. Anak juga
kurang percaya diri , bermental pengharapan dan mudah terpengaruh
5. Djamarah (2011:164) mengatakan : Banyak anak didik yang iri
terhadap anak didik tertentu yang lebih banyak mendapatkan tujuan dan perhatian ekstra dari guru .
Mereka malas belajar karena
menganggap guru pilih kasih dalam dalam melampiaskan kasih sayang. Sikap
negatif anak didik ini harus
diredam dengan menempatkan anak didik
secara proporsional. Pujian harus diberikan secara merata kepada anak didik sebagai
individu, bukan kepada yang canti atau
yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati terhadap
guru. Tetapi merupakan
figur yang disenagi dan dikagumi
6. Dimyati dan Mudjiono (2009:239)
mengatakan : “ akibat penerimaan, penolakan
atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan berpengaruh pada pekembangan kepribadian”
7. Djamarah (2011:246) mengatakan :
kebangkitan perilaku seksualitas diatas
disebabkan faktor-faktor luar
diri remaja, seperti buku porno, filim cabul dan gambar porno. Anak didik yang sudah pernah melakukan perbuatan jahiliah itu sulit untuk menerima pelajaran disekolah , karena mereka cenderung berkhayal tentang kenikmatan seks. keinginan untuk selalu berdampingan
dengan lawan jenis lebih besar
dari pada hasrat untuk belajar. Kerinduanseksual yang tak tersalurkan membuat mereka tidak dapat memusatkan
perhatian dalam belajar.
8. Pandia (2007 : 172-173) mengatakan bahwa ada bebrapa dampak negatif dari Chatting
yaitu : 1. Mengobrol tidak senonoh; Orang yang sedang chatting seringkali
terjerumus kedalam pembicaraan yang tidak senonoh seperti pornografi. 2.
membuat rematik dan otot
pegal; duduk didepan
komputer dalam jangka waktu yang lama
dapat mengakibatkan penyakit rematik dan pegal-pegal pada otot punggung maupun
jari tangan. 3. maniak Chatting; Chatting menjadi sangat
menyenangkan apalagi bertemu
dengan orang yang tepat. 4.
Berhubungan dekat dengan orang yang tidak jelas; Tidaklah baik berhubungan dekat dengan orang
yang tidak jelas, sebab tidak semua
orang yang kita temui adalah orang yang
jujur.
9. Sofia dan Prianto (2010:158)
mengatakan : “sekarang didunia termasuk
indonesia telah terserang “demam facebook”.
10. Purbo
mengatakan dalam sebuah
Seminar Nasional TI (SNasTI) 2011 Internet juga mengajarkan keburukan
yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya
11. Menkominfo Tifatul
Sembiring mengatakan bahwa hasil
penelitian di kota besar di Indonesia termasuk Medan ; 97
% siswa SMP pernah membuka dan melihat
serta menonton film porno. 92% sudah pernah melakukan oral seks. 61% sudah
pernah melakukan zinah, dan 21,2% sudah pernah melakukan aborsi.
12. Kepala
Dinas Kominfo Ir.Zulkifli Sitepu mengaku khawatir terhadap penyalahgunaan
tekhonologi komunikasi seperti warung internet oleh kalangan pelajar. Dalam rajia yang dilakukan fihaknya ditemukan
siswa SD dan SMP yang bermain internet di saat jam-jam pelajaran.
13. Suyatno (2011 :9-11) dalam penelitian di SMP/ SMA diwilayah kabupten bogor mengatakan sebanyak 99 siswa (61,11% dari jumlah
responden) menikmati pornografi di warnet. pornografi membuat kecanduan. bahwa pornografi dapat menurunkan motivasi
belajar siswa namun tidak signifikan.
Penelitian juga mengungkapkan
bahwa pornografi mempengaruhi
kedisiplinan siswa . Hasil regresi miniab
diperoleh hasil bahwa 95 %
pornografi mempengaruhi
kedisiplinan secara signifikan .